Skip to main content

Sebab terbiasa akan menyulutkan cinta. Walau bukan dengan seseorang yang kau harapkan.


Wajahnya mulai berotasi dipikiran saat kekosongan datang membayang. Sebenarnya aku tidak menginginkan, hanya menyita waktu tanpa ada getar ketertarikan. Biasa saja karna dia bukan seseorang yang kuinginkan untuk menepis bayangan yang kini masih bertahan.

Pikiranku melayang sejuta pertanyaan menyerang. Kenapa harus dia yang datang? Menemani hariku yang kelam berselimut kegelapan. Kenapa harus dia?yang melengkungkan senyuman yang slama ini telah tengelam bersama kenangan.  Tidak adakah seseorang yangku inginkan untuk menggantikan posisinya sekarang?

Bukan dia yang kunanti. Tapi kenyataannya dialah yang selalu disisi. Menemaniku dalam sepi.

Aku membangun pembatas dihati. Mengantisipasi agar rasa tidak terlanjur merajai hingga yang ku takutkan lama-lama akan terjadi..berubah menyerupai seseorang yang saling mencintai. Aku tak ingin menjadi sebab seseorang terlukai. Karnaaku tau luka dimasalalunya lebih dalam dari pada yang kurasakan saat ini. Tapi mengapa saat dia pergi, jadi aku yang diam-diam menanti?

Sunggu aku tak mengiginkan ketertarikan yang mulai terselip diantara kita.aku takut apa yang aku rasakan hanya sementara. Sebab bayang masa lalu masih mengendap, tidak semudah itu kan menggantikan yang sudah terlanjur tertanam?atau jangan-jangan hanya dia yang datang jadi aku gampang terbawa keadaan?

Dia tak pandai melontarkan rayuan apa lagi berucap sayang.

Bisa dihitung jari berapa rayuan yang telah terucap dalam sederet kalimatnya. Apa mungkin karena masa lalunya juga masih tertinggal didasar jiwa, hingga tak ada satupun yang dapat mengantikannya. Yaa...mungkin sama seperti apa yang kurasakan. Sehingga terkadang kita hanya saling membutuhkan saat bayang-bayang kenangan datang menghancurkan kebahagiaan yang mulai muncul bersamaan.

Mungkin tidak kalau pada akhirnya kita saling melengkapi serpihan hati yang telah sama-sama mati?

Pernah terbesit pikiran untuk saling memahami dan melengkapi. Mencoba berbagi sisa kebahagiaan yang kita miliki. Menata yang telah mati menjadikannya menyerupai sempurna. Apa pikiranmu serupa denganku? Kalau memang iya mengapa kau masih tetap berdiam diri? 

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.