Wajahnya mulai berotasi dipikiran saat kekosongan
datang membayang. Sebenarnya aku tidak menginginkan, hanya menyita waktu tanpa ada
getar ketertarikan. Biasa saja karna dia bukan seseorang yang kuinginkan untuk menepis
bayangan yang kini masih bertahan.
Pikiranku melayang sejuta pertanyaan menyerang. Kenapa
harus dia yang datang? Menemani hariku yang kelam berselimut kegelapan. Kenapa harus
dia?yang melengkungkan senyuman yang slama ini telah tengelam bersama kenangan. Tidak adakah seseorang yangku inginkan untuk menggantikan
posisinya sekarang?
Bukan dia yang kunanti. Tapi kenyataannya
dialah yang selalu disisi. Menemaniku dalam sepi.
Aku membangun pembatas dihati. Mengantisipasi agar rasa tidak terlanjur merajai hingga yang ku takutkan
lama-lama akan terjadi..berubah menyerupai seseorang yang saling mencintai. Aku
tak ingin menjadi sebab seseorang terlukai. Karnaaku tau luka dimasalalunya lebih
dalam dari pada yang kurasakan saat ini. Tapi mengapa saat dia pergi, jadi aku
yang diam-diam menanti?
Sunggu aku tak mengiginkan ketertarikan
yang mulai terselip diantara kita.aku takut apa yang aku rasakan hanya
sementara. Sebab bayang masa lalu masih mengendap, tidak semudah itu kan
menggantikan yang sudah terlanjur tertanam?atau jangan-jangan hanya dia yang
datang jadi aku gampang terbawa keadaan?
Dia tak pandai melontarkan rayuan apa
lagi berucap sayang.
Bisa dihitung jari berapa rayuan yang
telah terucap dalam sederet kalimatnya. Apa mungkin karena masa lalunya juga
masih tertinggal didasar jiwa, hingga tak ada satupun yang dapat
mengantikannya. Yaa...mungkin sama seperti apa yang kurasakan. Sehingga
terkadang kita hanya saling membutuhkan saat bayang-bayang kenangan datang
menghancurkan kebahagiaan yang mulai muncul bersamaan.
Mungkin tidak kalau pada akhirnya kita
saling melengkapi serpihan hati yang telah sama-sama mati?
Pernah terbesit pikiran untuk saling
memahami dan melengkapi. Mencoba berbagi sisa kebahagiaan yang kita miliki.
Menata yang telah mati menjadikannya menyerupai sempurna. Apa pikiranmu serupa
denganku? Kalau memang iya mengapa kau masih tetap berdiam diri?
Comments
Post a Comment