Mau berapa
banyak lagi sayatan yang kau berikan?
Mau
sedalam apa lagi luka yang kau torehkan?
Mau
menjadikan serpihan sekecil apa lagi hatiku ini? Katakan!
Katakan
semua yang kau inginkan. Selagi aku bertanya, selagi aku sanggup mendengar
semua jawaban yang akan kau lontarkan. Sebab aku tak akan mengulang
pertanyaan yang sama kalau kau tetap bersi keras untuk tidak mengutarakannya
sekarang.
Kenyataan
memang berbanding lurus dengan kejujuran selalu saja berujung menyakitkan.
Terkadang sebongkah kebohongan yang dibalut dengan indah lebih menjanjikan
kebahagiaan. Siapa yang tidak tergoyah untuk menjamah yang terlihat jauh
lebih mudah tertangkap mata tanpa perlu menempuh proses terbiasa dengan luka
atapun lara?
Apa ini
bagian dari rencana memperkuat yang terpanah lemah? hingga serupa besi baja yang tak hancur sekalipun
dihantam dari segalah arah. Amarah selalu lengah mempererat yang hampir terpisah.
Lelah bersanding gundah tidak mungkin kan
hanya seseorang yang bertahan dalam jengah dan terus mengalah?
Aku tak sampai
hati untuk mecaci maki apa lagi membenci. Menghakimi janji yang telah membasi,
yang semestinya bersemi berhias pelangi. Harus menggunakan cara apa lagi agar senyumku
dapat kembali. Terlalu redup hingga cahaya mentari tak sanggup menyinari. Menepi
sepi membuatku hilang kendali. Menunggu waktu saat keterpurukan tak menahanku bangkit
sendiri. Tak mengharap kau kembali menemani. Sebab sendiri tak selalu sunyi dan sunyi tak berarti sepi.
Comments
Post a Comment