Kita
serupa, sama-sama masih menyimpan luka. Namun tanpa disadari kita saling
menyelipkan bahagia. Walau dilain sisi
kita juga tidak menginginkan cinta yang mulai tersumat didalamnya. Mencegah
dengan berbagai cara. Mengelak dengan berbagai kata. Tapi apa daya. Terkadang perasaan
menjadi raja mengalahkan logika. Hingga pada akhirnya kita mengakuinya, ada
yang bergetar menjalar disudut hati apa lagi kalau bukan cinta.
Kau menjadikanku pilihan, saat aku menjadikanmu
keutamaan.
Lakukan
saja semua yang kau inginkan, apa saja. Menjadikanmu keutamaan bukan salah satu
penyesalan. Sudah beruluang kali aku tegaskan. Aku tak membutuhkan alasan ataupun balasan
karna ketulusan yang sedang berperan. kau yang seharusnya berpikir ulang untuk
menjadikanku pilihan. Sebab siapa lagi yang menjadi sandaran jika keterpurukan
menyerang? kalau bukan aku yang datang.
Mual. Ingin memuntahkan semua yang
menganjal. Harus mencerna berapa banyak lagi isyarat yang kau berikan? Hingga satupun
tak kunjungku hafal.
Aku
bukan dukun yang dapat membaca pikiran ataupun peramal yang sanggup mengetahui
keadaan kalau kau tak mengutarakan. Berkali-kali hanya sinyal yang terbaca
tanpa ada seberkas jawaban yang nyata. Apa yang sebenarnya kau inginkan? mengajakku
masuk dalam permainan yang sudah kau rancang dengan skenario penuh kejutan? Tak
ada ketertarikan untuk mencoba menyentuh alurnya. Apa lagi harus berjuang untuk
mencuri start duluan agar tak terjadi perebutan. Ambil saja. Aku sudah dapat
menebak apa yang akan terjadi diakhirnya. Walau kau memulai dengan berbagai
cara yang berbeda mengusahakan awal yang selalu bahagia dan seperti biasanya berakhir
dengan penuh luka.
Kau pura-pura tak paham atau aku yang
terlalu pandai memendam?
Lebih
baik diam memendam dari pada harus mengutarakan kalau kau tak kunjung paham. Memendam
satu-satunya cara paling mujarap saat ini. Diam walau berjuta pertannyaan terus
datang membayang, membingungkan. Semua menyerang bersamaan aku tak sanggup
membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya angan semata. Namun semua itu
tidak menjanjikan bahagia kan? Mungkin saja hanya bualan yang tidak sepatutnya untuk
terus diperjuangkan.
Selamat tinggal harapan. Mungkin kau
hanya datang untuk sekedar bersinggah bukan menetap.
Comments
Post a Comment