Skip to main content

Kita sama-sama terluka. Apa bisa merajut bahagia?



Kita serupa, sama-sama masih menyimpan luka. Namun tanpa disadari kita saling menyelipkan bahagia. Walau dilain sisi  kita juga tidak menginginkan cinta yang mulai tersumat didalamnya. Mencegah dengan berbagai cara. Mengelak dengan berbagai kata. Tapi apa daya. Terkadang perasaan menjadi raja mengalahkan logika. Hingga pada akhirnya kita mengakuinya, ada yang bergetar menjalar disudut hati apa lagi kalau bukan cinta.

Kau menjadikanku pilihan, saat aku menjadikanmu keutamaan.

Lakukan saja semua yang kau inginkan, apa saja. Menjadikanmu keutamaan bukan salah satu penyesalan. Sudah beruluang kali aku tegaskan. Aku tak membutuhkan alasan ataupun balasan karna ketulusan yang sedang berperan. kau yang seharusnya berpikir ulang untuk menjadikanku pilihan. Sebab siapa lagi yang menjadi sandaran jika keterpurukan menyerang? kalau bukan aku yang datang.

Mual. Ingin memuntahkan semua yang menganjal. Harus mencerna berapa banyak lagi isyarat yang kau berikan? Hingga satupun tak kunjungku hafal.

Aku bukan dukun yang dapat membaca pikiran ataupun peramal yang sanggup mengetahui keadaan kalau kau tak mengutarakan. Berkali-kali hanya sinyal yang terbaca tanpa ada seberkas jawaban yang nyata. Apa yang sebenarnya kau inginkan? mengajakku masuk dalam permainan yang sudah kau rancang dengan skenario penuh kejutan? Tak ada ketertarikan untuk mencoba menyentuh alurnya. Apa lagi harus berjuang untuk mencuri start duluan agar tak terjadi perebutan. Ambil saja. Aku sudah dapat menebak apa yang akan terjadi diakhirnya. Walau kau memulai dengan berbagai cara yang berbeda mengusahakan awal yang selalu bahagia dan seperti biasanya berakhir dengan penuh luka.

Kau pura-pura tak paham atau aku yang terlalu pandai memendam?

Lebih baik diam memendam dari pada harus mengutarakan kalau kau tak kunjung paham. Memendam satu-satunya cara paling mujarap saat ini. Diam walau berjuta pertannyaan terus datang membayang, membingungkan. Semua menyerang bersamaan aku tak sanggup membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya angan semata. Namun semua itu tidak menjanjikan bahagia kan? Mungkin saja hanya bualan yang tidak sepatutnya untuk terus diperjuangkan.

Selamat tinggal harapan. Mungkin kau hanya datang untuk sekedar bersinggah bukan menetap. 

Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...

Basket memang selalu memikat

Sore itu detak jantungku berderap seiraman pantulan bola yang sedang kau kuasai. Terik matahari menyongsong sinar jatuh tepat dilapangan tempat pertandingan.  Diantara pemain lain kau yang paling menyita perhatian. Mataku seperti enggan berpaling, tidak ingin melewatkan sedetik  pun saat kau sedang bermain. Seperti ada magnet yang menahan, membuatku tetap bertahan memandang dengan berjuta harapan yang sedang berotasi dipikiran. Sebenarnya sudah berberapa kali berada dalam situasi seperti ini namun sesering itu juga aku menangkis yang tiba-tiba menyusup diantara degup jantungku, bergelut antara pikiran dan perasaan. Setiap latihan, setiap pertandingan sebenarnya ada seseorang yang menerawang dari kejauhan. Membaca gerak-gerik permainanmu dilapangan. Badan tinggi semampai serupa ring basket yang tinggi menjuntai.  Detak jantungku memburu, berderu saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Peluh berjatuh meluruh, telukis jelas lelah mulai menjamah tubuhmu...