Skip to main content

Hujan selalu punya cara memaksaku kembali menyentuh kenangan yang hampir saja hilang.


Disetiap tetes hujan terselip rasa rindu yang selama ini kupendam. Kubiarkan mengalir perlahan sampai akhirnya mengendap dipermuukaan. Sebab terlalu sulit untuk mengutarakan jika aku tau kau sudah tak tertarik menggenggam apa yang slama ini telah kutanam. 

Kabut yang kian menebal dengan awan hitam yang terlihat samar-samar kini menjadi kawan dalam penantian panjang. Awal yang menyakitkan namun lama-kelamaan aku menikmatinya walau perih yang tak tertahankan. Bertahan ditengah derasnya hujan. Menatap  langit yang kian menghitam. Adakah yang dapat melepaskanku dari jerat kegelapan yang terus membayang?

Bersama hujan aku menari diatas luka yang kau torehkan. Bersama hujan tawaku meledak lalu teredam air mata yang tak sanggupku tahan dengan sisa kekuatan. Hujan mendekap tubuhku semakin lama semakin mengencang hingga kesesakan. Sebenarnya tak sesesak saat kau mengucapkan kata perpisahan. Apa lagi itu bukan yang kuinginkan, melaikan apa sudah kau rencanakan.  

Anginnya menusuk pori-pori, dingin yang tak tertahankan menjadi sebab rahang bergelotakkan hingga jemari ­membentuk kerutan disetiap pangkalnya. Tapi ini belum seberapa kan? Dibandingkan sikap dinginmu kepadaku. Sungguh aku lebih sanggup berada pada situasi seperti ini dibanding harus merasakan sikap yang tak semestinya kau tunjukkan.

Derasnya sudah bermetafosis menjadi rintik. Genangan air sisa hujan berhamburan disetiap sudut jalan. Ternyata deras tetes hujan pun tak sanggup membawa pergi bayang-bayang kenangan yang terus datang membayang. Harus dengan cara apa lagi aku melampiaskan?

Lukanya tak kunjung mengering, semakin berair terguyur hujan kemarin.

Kalau saja waktu itu kau tak menarik dan menawari secangkir janji mengisi hari dengan pelangi. Mungkin jemarimu pun tak sanggup menjamah hati,mengukir setiap inci disudut yang dapat kau raih. Menjadikan serupa relif penuh luka. Apa kau sengaja membutakan mata? agar tak dapat melihat bagaimana sulitnya aku menahan perih sendirian.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.