Disetiap tetes hujan terselip rasa rindu yang selama ini
kupendam. Kubiarkan mengalir perlahan sampai akhirnya mengendap dipermuukaan.
Sebab terlalu sulit untuk mengutarakan jika aku tau kau sudah tak tertarik
menggenggam apa yang slama ini telah kutanam.
Kabut yang kian menebal dengan awan hitam yang terlihat samar-samar kini
menjadi kawan dalam penantian panjang. Awal yang menyakitkan namun
lama-kelamaan aku menikmatinya walau perih yang tak tertahankan.
Bertahan ditengah derasnya hujan. Menatap langit yang kian menghitam. Adakah
yang dapat melepaskanku dari jerat kegelapan yang terus membayang?
Bersama hujan aku menari diatas luka yang kau
torehkan. Bersama hujan tawaku meledak lalu teredam air mata
yang tak sanggupku tahan dengan sisa kekuatan. Hujan mendekap tubuhku
semakin lama semakin mengencang hingga kesesakan. Sebenarnya tak sesesak saat
kau mengucapkan kata perpisahan. Apa lagi itu bukan yang kuinginkan, melaikan
apa sudah kau rencanakan.
Anginnya menusuk pori-pori, dingin yang tak
tertahankan menjadi sebab rahang bergelotakkan hingga jemari membentuk
kerutan disetiap pangkalnya. Tapi ini belum seberapa kan? Dibandingkan sikap
dinginmu kepadaku. Sungguh aku lebih sanggup berada pada situasi seperti ini
dibanding harus merasakan sikap yang tak semestinya kau tunjukkan.
Derasnya
sudah bermetafosis menjadi rintik. Genangan air sisa hujan berhamburan disetiap
sudut jalan. Ternyata deras tetes hujan pun tak sanggup membawa pergi
bayang-bayang kenangan yang terus datang membayang. Harus dengan cara apa lagi
aku melampiaskan?
Lukanya tak kunjung
mengering, semakin berair terguyur hujan kemarin.
Kalau saja waktu itu kau tak menarik dan menawari secangkir
janji mengisi hari dengan pelangi. Mungkin jemarimu pun tak sanggup menjamah hati,mengukir
setiap inci disudut yang dapat kau raih. Menjadikan serupa relif penuh luka. Apa kau sengaja membutakan mata? agar tak dapat melihat bagaimana sulitnya aku
menahan perih sendirian.
Comments
Post a Comment