Skip to main content

Lalu aku harus percaya siapa?


Raut wajahnya masih bersemayam dibenakku. Senyum manisnya  masih tetap mengisi relung hatiku. Genggaman tangannya masih terasa hangat disetiap jengkal jemariku.

Beberapa kata yang terucap membuyarkan lamunanku.
Mulutku diam membisu.
Angan yang sejak tadi membayangi kini tampak semu

Apa maksut perkataan tadi? Ucapan buruk yang ditujukan padanya membuatku ciut tak bernyali.

Tak terbayangkan sebelumnya. Seseorang yang selalu menjadi alasan disetiap senyumku. Berubah menjadi seseorang yang dapat manghancurkan segalanya hanya dalam sekejap mata.


Hatiku teriris. Semua yang seharusnya indah bersemi kini berubah menjadi tragis

Kalimatnya mematikan rasa.
Membuatku tak dapat bicara nyaris terbata.
Mengacak-ngacak yang telah tertata.
Memaksaku mencari yang tersisa walau telah tiada.
Nyaris membutakan mata.
Karna tak dapat menemukan yang tersisa walau disela terkecil dalam rongga dada.

Yang terucap takserupa seperti yang terduga.

Tak terbesit sedikitpun pikiran tentang dirinya seperti apa yang terkata. Hanya menerka, tanpa mengetahui yang nyata. Aku mengenalnya lebih lama. Walau aku bukan yang pertama, walau aku tak selalu berada disisinya. Namun aku selalu mendekap dan menjaga nya dalam doa. Apa itu kurang untuk tetap mempercayainya?

Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...