Raut wajahnya
masih bersemayam dibenakku. Senyum manisnya
masih tetap mengisi relung hatiku. Genggaman tangannya masih terasa
hangat disetiap jengkal jemariku.
Beberapa kata yang terucap
membuyarkan lamunanku.
Mulutku diam membisu.
Angan yang sejak tadi
membayangi kini tampak semu
Apa
maksut perkataan tadi? Ucapan buruk yang ditujukan padanya membuatku ciut tak
bernyali.
Tak terbayangkan sebelumnya. Seseorang yang selalu menjadi alasan
disetiap senyumku. Berubah menjadi seseorang yang dapat manghancurkan segalanya hanya dalam sekejap mata.
Hatiku teriris. Semua yang seharusnya indah
bersemi kini berubah menjadi tragis
Kalimatnya mematikan rasa.
Membuatku tak dapat bicara
nyaris terbata.
Mengacak-ngacak yang telah tertata.
Memaksaku mencari yang
tersisa walau telah tiada.
Nyaris membutakan mata.
Karna tak dapat menemukan
yang tersisa walau disela terkecil dalam rongga dada.
Yang terucap takserupa seperti yang terduga.
Tak terbesit sedikitpun pikiran tentang dirinya seperti apa yang
terkata. Hanya menerka, tanpa mengetahui yang nyata. Aku mengenalnya lebih
lama. Walau aku bukan yang pertama, walau aku tak selalu berada disisinya. Namun
aku selalu mendekap dan menjaga nya dalam doa. Apa itu kurang untuk tetap mempercayainya?
Comments
Post a Comment