Skip to main content

Kita diantara kata.


Biar arloji ini menjadi saksi.
 Berapa banyak waktu yang kuhabisi untuk menunggumu datang kembali.


            “Mas, tuna bakar madu, roti isi keju, sama es susunya satu”

“Oke. Tunggu dulu ya” Lelaki itu melemparkan seutas senyuman kearahku. Aku membalasnya, seraya memberikan menu yang sedari tadi kurambati setiap katanya.
Untuk kesekian kalinya aku datang kemari. Resto mini yang menyediakan tuna dengan berbagai variasi. Sangat unik dan menarik, membuatku tertarik mencicipi semua menu yang tersedia disini lagi, lagi dan lagi.

“Silahkan, selamat makan” 

Ucapnya membuyarkan lamunan. Aku yang sedari tadi asik didepan layar laptop dengan tulisan-tulisanku. Tak menyangka, makanan dan minuman yang kupesan sudah tertata tepat didepan mataku. Betapa aromanya menari-nari mengelilingi indra penciumku. 

“Makasih” 

“Sama-sama” 

“Tumben sendirian?” Belum sempat melumat hidangan pembukanya, bola mataku sudah lebih dulu  berputar menuju sumber suara. Masih lelaki yang sama mengajakku berbicara. Ternyata dia belum beranjak pergi, skarang mengambil posisi, menghadapkan tubuhnya menuju arah pandangku. Kali ini, ijinkan aku menghentikan lini waktu. Membiarkannya mematung dihadapku, hanya menatap aku. Kemudian kuhabisi rasa ingin tahuku, kulunasi rasa penasaranku. Ini bukan pertama kali aku berbicara dengannya. Tapi kita tak pernah benar-benar saling berbicang membicarakan suatu hal. Karna apa? Karna aku bukan yang pandai basa-basi membuka percakapan. Karna dia juga selalu sibuk berjaga dan mengantarkan pesanan

“Hehe iya. Yang lain baru sibuk”
.
Aku suka tempat ini. Meja, kursi yang tebuat dari kayu. Alat musik tradisional yang menggantung disetiap sudut pintu. Udara sejuk yang sering menggelitik kulitku. Alunan lagu penenang kalbu. lengkap dengan taman beserta pepohonan mengelilingi separuh bagian, membuatku merasa semakin nyaman. Dan…satu lagi yang tak terlupakan. Ada seseorang penyita perhatian.

“Gimana rasanya?” tanyanya menunjuk makanan yang masih utuh belum sempat kusentuh.

Jemariku reflex merangkak menuju sendok garpu. Mencicipi satu persatu pesananku. 

“Emm enak. Bumbunya pas” balasku. 

Ah, Bagaimana bisa aku yang tak pernah kehabisan kata saat bercerita, hanya menjawab pertanyaannya dengan begitu singkat? Kalimat-kalimat yang harusnya kuucapkan seakan terikat ditenggorokan, tak sanggup kukeluarkan secara bersamaan.

“Oke. Balik kedapur dulu ya” 

Dia tersenyum. Belum sempat aku membalas, sudah berbalik badan lalu menghilang dari pandang. Sudah berapa kali begini? Mulutku kaku tak dapat menahan sosoknya untuk tetap berdiri disini, lebih lama lagi. Sudahlah, batinku dalam hati. Kusantap pesananku satu persatu sambi sesekali menghadap laptop mengoreksi tulisan yang sedang kubuat semalam. Begitu singkat, Tuan. Semoga Tuhan selalu menjagamu, menepis segala rasa lelahmu. Kutatap ulang sosoknya. Ternyata aku memang tak dapat melepas pandangku terlalu lama untuk tidak melihatnya.

                                                                                                                       Bersambung…    
Kita diantara kata (II)

Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...