Skip to main content

Kita diantara kata (II)



Ilham baratra Putra. Seorang mahasiswa yang berasal dari salah sati fakultas swasta diYogyakarta. Lelaki tinggi berisi yang menyisihkan sebagian waktunya dengan mendirikan resto mini khusus ikan tuna.

Kita memang tak pernah saling berjabat tangan untuk berkenalan. Tentang pertemuan yang tak terduga sebelumnya, kebetulan-kebetulan yang sering bermunculan. Semua berjalan begitu saja tanpa sebuah rencana. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam benakku, sampai  berakhir pada pesan singkat yang akhir-akhir ini bermunculan dilayar handphone-ku. Sempurna sudah hidupku.

Semenjak saat itu aku lebih sering datang menemuinya. Kuhabisi luangku disana. Memperhatikan lakunya, menunggu pesananku dibuatkan olehnya. Sesederhana itu yang kusebut bahagia.

Selalu begitu seterunya. Seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas baruku. Datang menemuinya, berbicara (seadanya) padanya, memesan menu buatannya, memperhatikan lakunya. Ah, sampai aku nyaris hafal semua yang ia lakukan, baju yang biasanya ia kenakan, suara sepeda motor yang ia gunakan, hingga kegiatan diluar resto yang ia kerjakan.

Sungguh, segala yangku tau bukan karna aku jeli mencari semuamu. Tapi karna terbiasa berada disekitarmu.

“Baru ngapain?” Dia datang menghampiri tempat dudukku. Siang ini aku sengaja datang untuk menghilangkan suntukku. Mengobati rinduku sebelum benar-benar menggebu-gebu. Sebab beberapa hari yang lalu aku terlalu sibuk menggarap tugas-tugas kuliahku.

                “Nulis”
                “Nulis tentang apa?”
                “Tentang kamu”
                “Aku?”
                “Eh bukan-bukan!”
                “Terus?”
                “Tentang imajinasku. Yang aku ungkapin lewat kata-kata”

Aku menghela nafas panjang setelah melihatnya menganggukkan kepala, tanda dia percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Coba tadi aku tak langsung menyanggah, bisa-bisa tertangkap basah. Mengetahui bahwa memang dia yang sebenarnya menjadi pemeran utama disetiap abjad tulisanku. Ah, mau ditaruh mana mukaku kalau nanti dia tau? Malu.

               “Udah dulu ya, ada yang barusan dateng mau pesen”

Aku meng-iyakan saja kata-katanya. Setelah itu dia mengambil langkah cepat kembali menuju dapur utama. Mungkin sekarang orang bertanya-tanya kenapa untuk bertemu selalu aku yang datang menghampirinya? Kenapa tidak janjian saja? Untuk saat ini sebanarnya aku tak memiliki jawaban untuk semua tanya yang terlontar barusan.

Aku beranjak dari tempat dudukku. Kuputuskan untuk berkeliling, siap tau dapat inspirasi untuk melanjutkan tulisanku. Baru dua tiga petak langkahku terhenti. Ada suara yang memanggil namaku dari lain sisi tempat ini.

                “Eh mas Tara. Kenapa?”
                “Enggak kenapa-kenapa. Sini ngobrol-ngobrol dulu”
                “Oke”

Dengan senang hati aku mendatanginya. Karna aku sering datang kemari, jadi kenal orang-orang yang tinggal atau bekerja disekitar lingkungan resto ini. Sebelumnya aku memang sudah pernah berbincang-bincang dengan mas Tara. Bercerita banyak hal begitu juga dengan dirinya. Dan aku menemukan fakta, kalau mas Tara ternyata juga dengan dengan ilham. Dekat dalam artian teman.

                “Tumben beberapa hari ini nggak keliatan. Dicariin tuh”
                “Biasalah mas tugas kuliah.  Aku? Dicari siapa?”
                “Iya. Tukang nagih utang. Hahaha”
                “Ih rese kan"
                “Hahaha. Enggak-enggak. Pura-pura nggak tau segala”
                “Hehe. Emang dia kenapa?”
                “Dia….”

Kemudian mas Tara menceritakan beberapa hal yang belum kuketahui sebelumnya, yang tak mungkin kuduga sebelumnya. “Bagaimana bisa?” “Ah, kau pasti bercanda” mulutku tak henti menganga. Hanya dua kata itu yang sedari tadi keluar sebab tak percaya tentang segelintir cerita darinya. Atau aku tang terlalu berlebihan menanggapi cerita tentang dirinya? Yang ada dipikiranku saat ini hanya…betapa aku salut padanya, dengan perjuangan maupun semangatnya, Ilham Baratra Putra.

Selesai bercerita aku cepat-cepat kembali menuju meja makan. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Aku harus pamit pulang. Menyelesaikan tugas beserta tulisan keduaku. Surat kedua untuk, Tuan.


Why are you so far away. You know it’s very hard for me to get myself close to you. Handphone-ku berdering. Ada satu pesan masuk rupanya.


                From : Ilham Baratra Putra.

                      Semangat belajarnya, ya!

Mataku terbelalak membaca smsnya. Jangan-jangan salah kirim? Batin-ku. Kita memang saling bertukar pesan. Namun tak pernah seperti yang tertera dilayar handphoneku barusan. Biasanya hanya membicarakan suatu hal, itupun tidak dibahas secara berkepanjangan. Memang penuh kejutan, membuatku bingung kelimpungan. Apa lagi dia tidak mudah ditebak,sangat sulit untuk dilacak. Sampai-sampai terkadang aku takut salam dalam bertindak.

Aku mengambil posisi tidur diranjang. Lalu bergegas membalas pesan. Sebelum pikiranku terlalu jauh melayang-layang dilangit kamar. Membayangkan esok hari agenda kegiatanku kosong, pertanda aku mempunyai kesempatan untuk bertemu. Ah, sudah tidar sabar.

Tapi…bagaimana aku bisa tidur dengan keadaan bibir yang tak henti menyunggingkan senyuman?
 

Bersambung...
Kita diantara kata (End) 

Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...