Ilham baratra Putra. Seorang mahasiswa
yang berasal dari salah sati fakultas swasta diYogyakarta. Lelaki tinggi berisi
yang menyisihkan sebagian waktunya dengan mendirikan resto mini khusus ikan
tuna.
Kita memang tak pernah saling berjabat
tangan untuk berkenalan. Tentang pertemuan yang tak terduga sebelumnya,
kebetulan-kebetulan yang sering bermunculan. Semua berjalan begitu saja tanpa
sebuah rencana. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam benakku, sampai berakhir pada pesan singkat yang akhir-akhir
ini bermunculan dilayar handphone-ku. Sempurna sudah hidupku.
Semenjak saat itu aku lebih sering
datang menemuinya. Kuhabisi luangku disana. Memperhatikan lakunya, menunggu pesananku
dibuatkan olehnya. Sesederhana itu yang kusebut bahagia.
Selalu begitu seterunya. Seperti sudah
menjadi bagian dari rutinitas baruku. Datang menemuinya,
berbicara (seadanya) padanya, memesan menu buatannya, memperhatikan lakunya. Ah,
sampai aku nyaris hafal semua yang ia lakukan, baju yang biasanya ia kenakan,
suara sepeda motor yang ia gunakan, hingga kegiatan diluar resto yang ia
kerjakan.
Sungguh, segala yangku tau bukan karna aku jeli mencari semuamu. Tapi karna
terbiasa berada disekitarmu.
“Baru ngapain?” Dia datang
menghampiri tempat dudukku. Siang ini aku sengaja datang untuk menghilangkan
suntukku. Mengobati rinduku sebelum benar-benar menggebu-gebu. Sebab beberapa
hari yang lalu aku terlalu sibuk menggarap tugas-tugas kuliahku.
“Nulis”
“Nulis
tentang apa?”
“Tentang
kamu”
“Aku?”
“Eh
bukan-bukan!”
“Terus?”
“Tentang
imajinasku. Yang aku ungkapin lewat kata-kata”
Aku menghela nafas panjang setelah melihatnya
menganggukkan kepala, tanda dia percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Coba
tadi aku tak langsung menyanggah, bisa-bisa tertangkap basah. Mengetahui bahwa
memang dia yang sebenarnya menjadi pemeran utama disetiap abjad tulisanku. Ah,
mau ditaruh mana mukaku kalau nanti dia tau? Malu.
“Udah
dulu ya, ada yang barusan dateng mau pesen”
Aku meng-iyakan saja kata-katanya. Setelah
itu dia mengambil langkah cepat kembali menuju dapur utama. Mungkin sekarang
orang bertanya-tanya kenapa untuk bertemu selalu aku yang datang
menghampirinya? Kenapa tidak janjian saja? Untuk saat ini sebanarnya aku tak
memiliki jawaban untuk semua tanya yang terlontar barusan.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kuputuskan
untuk berkeliling, siap tau dapat inspirasi untuk melanjutkan tulisanku. Baru dua
tiga petak langkahku terhenti. Ada suara yang memanggil namaku dari lain sisi
tempat ini.
“Eh
mas Tara. Kenapa?”
“Enggak
kenapa-kenapa. Sini ngobrol-ngobrol dulu”
“Oke”
Dengan senang hati aku
mendatanginya. Karna aku sering datang kemari, jadi kenal orang-orang yang
tinggal atau bekerja disekitar lingkungan resto ini. Sebelumnya aku memang
sudah pernah berbincang-bincang dengan mas Tara. Bercerita banyak hal begitu
juga dengan dirinya. Dan aku menemukan fakta, kalau mas Tara ternyata juga
dengan dengan ilham. Dekat dalam artian teman.
“Tumben
beberapa hari ini nggak keliatan. Dicariin tuh”
“Biasalah
mas tugas kuliah. Aku? Dicari siapa?”
“Iya.
Tukang nagih utang. Hahaha”
“Ih
rese kan"
“Hahaha.
Enggak-enggak. Pura-pura nggak tau segala”
“Hehe.
Emang dia kenapa?”
“Dia….”
Kemudian mas Tara menceritakan
beberapa hal yang belum kuketahui sebelumnya, yang tak mungkin kuduga sebelumnya.
“Bagaimana bisa?” “Ah, kau pasti bercanda” mulutku tak henti menganga. Hanya dua
kata itu yang sedari tadi keluar sebab tak percaya tentang segelintir cerita darinya.
Atau aku tang terlalu berlebihan menanggapi cerita tentang dirinya? Yang ada
dipikiranku saat ini hanya…betapa aku salut padanya, dengan perjuangan maupun
semangatnya, Ilham Baratra Putra.
Selesai bercerita aku cepat-cepat
kembali menuju meja makan. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Aku
harus pamit pulang. Menyelesaikan tugas beserta tulisan keduaku. Surat kedua untuk, Tuan.
Why are you so far away. You know it’s very
hard for me to get myself close to you. Handphone-ku berdering. Ada satu pesan masuk rupanya.
From : Ilham Baratra
Putra.
Semangat
belajarnya, ya!
Mataku terbelalak membaca smsnya. Jangan-jangan salah kirim? Batin-ku. Kita
memang saling bertukar pesan. Namun tak pernah seperti yang tertera dilayar
handphoneku barusan. Biasanya hanya membicarakan suatu hal, itupun tidak
dibahas secara berkepanjangan. Memang penuh kejutan, membuatku bingung
kelimpungan. Apa lagi dia tidak mudah ditebak,sangat sulit untuk dilacak. Sampai-sampai
terkadang aku takut salam dalam bertindak.
Aku mengambil posisi tidur
diranjang. Lalu bergegas membalas pesan. Sebelum pikiranku terlalu jauh melayang-layang
dilangit kamar. Membayangkan esok hari agenda kegiatanku kosong, pertanda aku
mempunyai kesempatan untuk bertemu. Ah, sudah tidar sabar.
Tapi…bagaimana aku bisa tidur dengan
keadaan bibir yang tak henti menyunggingkan senyuman?
Comments
Post a Comment