Skip to main content

Surat kedua untuk Tuan.

Secangkir kopi dengan rindu disetiap tetesnya.


Jadikan aku tujuan untukmu kembali pulang.

Aku selalu menanti dibalik pintu. Berteman secangkir coklat dan makanan kecil kesukaanmu. Betapa menyambut kepulanganmu adalah hal yang paling kutunggu-tunggu.

Tuan, tak ada yang sanggup membuat jantungku berdegup hebat selain mendengar persinggungan jemarimu dengan kayu yang berbuih ketukan dibibir pintu. Tak ada yang bisa membuat nafasku terhenti sepersekian detik selain melihat sosokmu muncul dari ganggang pintu. Rasanya ingin kutenggelamkan diriku dalam dekap tubuhmu. Menghilangkan segala risau, membayar seluruh rindu yang bersarang dibenakku. Berbisik lirih ditelingamu Tenang saja tuan, ada aku yang selalu berdiri tepat diblakangmu. Yang tak akan pernah membiarkanmu kalah dengan waktu.   
   
Ajari aku menjadi wanita yang paling kau butuhkan.
 
Ajari aku menjadi wanita yang ahli memahami seluruh keluh kesah masalahmu. Yang dapat kau andalkan dalam keadaan terbaik hingga keadaan terburukmu. Lalu ajari aku menjadi wanita penyebab tawa berserta air matamu, wanita pertama yang kau lihat setiap pagi saat terbangun dari tidur panjangmu.

Tuan, kau memang lelaki tangguh. Ada begitu banyak beban tanggung jawab yang bersiap-siap membuat tersungkur tapi tak ada satupun yang dapat membuatmu terjatuh. Dimana kau samarkan gelisahnya? Bagaimana melumat lelahnya? ini bukan permainan petak umpet. Membiarkanku menebak-nebak yang tersemat diantara tatapmu. Ah, bagaimana bisa kau membohongiku dengan berkata bahwa semua baik-baik saja jika aku lebih sigap membaca sorot matamu?    
    
Jadi, merapuhlah dipelukku saat langkahmu mulai lumpuh berjalan kedepan melawan kerasnya kehidupan.

Melemahlah disandingku saat hatimu mulai rapuh menahan segala resah gelisah yang tak hentinya-hentinya menghujam pikiran. 

Menangislah dibahuku saat semua kacau tak dapat lagi kau redam dengan sisa kekuatan, saat air mata tak dapat lagi kau sembunyikan lewat sederet senyuman.     

Lalu…setelah segalanya teratasi. Kembalilah menuju peraduan, dengan penuh keyakinan. Tak ada yang perlu ditakutkan apa lagi dikhawatirkan, Tuan. Karna saat kau tengok kebelakang, ada seorang wanita yang tak pernah ragu akan kemampuanmu, wanita penguat setiap jejak langkahmu menuju masa depan. 


Tuan, kalau kau tak kunjung meyakinkan, tak mungkin kulanjutkan ataupun mencoba tuk bertahan.


 

Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...

Basket memang selalu memikat

Sore itu detak jantungku berderap seiraman pantulan bola yang sedang kau kuasai. Terik matahari menyongsong sinar jatuh tepat dilapangan tempat pertandingan.  Diantara pemain lain kau yang paling menyita perhatian. Mataku seperti enggan berpaling, tidak ingin melewatkan sedetik  pun saat kau sedang bermain. Seperti ada magnet yang menahan, membuatku tetap bertahan memandang dengan berjuta harapan yang sedang berotasi dipikiran. Sebenarnya sudah berberapa kali berada dalam situasi seperti ini namun sesering itu juga aku menangkis yang tiba-tiba menyusup diantara degup jantungku, bergelut antara pikiran dan perasaan. Setiap latihan, setiap pertandingan sebenarnya ada seseorang yang menerawang dari kejauhan. Membaca gerak-gerik permainanmu dilapangan. Badan tinggi semampai serupa ring basket yang tinggi menjuntai.  Detak jantungku memburu, berderu saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Peluh berjatuh meluruh, telukis jelas lelah mulai menjamah tubuhmu...