Secangkir kopi dengan rindu disetiap tetesnya.
Jadikan aku tujuan untukmu kembali pulang.
Aku selalu menanti dibalik pintu. Berteman
secangkir coklat dan makanan kecil kesukaanmu. Betapa menyambut kepulanganmu
adalah hal yang paling kutunggu-tunggu.
Tuan, tak ada yang sanggup membuat
jantungku berdegup hebat selain mendengar persinggungan jemarimu dengan kayu
yang berbuih ketukan dibibir pintu. Tak ada yang bisa membuat nafasku terhenti
sepersekian detik selain melihat sosokmu muncul dari ganggang pintu. Rasanya
ingin kutenggelamkan diriku dalam dekap tubuhmu. Menghilangkan segala risau,
membayar seluruh rindu yang bersarang dibenakku. Berbisik lirih ditelingamu Tenang saja tuan, ada aku yang selalu berdiri
tepat diblakangmu. Yang tak akan pernah membiarkanmu kalah dengan waktu.
Ajari aku menjadi wanita yang paling kau butuhkan.
Ajari aku menjadi wanita yang ahli
memahami seluruh keluh kesah masalahmu. Yang dapat kau andalkan dalam keadaan
terbaik hingga keadaan terburukmu. Lalu ajari aku menjadi wanita penyebab tawa
berserta air matamu, wanita pertama yang kau lihat setiap pagi saat terbangun
dari tidur panjangmu.
Tuan, kau memang lelaki tangguh. Ada
begitu banyak beban tanggung jawab yang bersiap-siap membuat tersungkur tapi
tak ada satupun yang dapat membuatmu terjatuh. Dimana kau samarkan gelisahnya? Bagaimana
melumat lelahnya? ini bukan permainan petak umpet. Membiarkanku menebak-nebak
yang tersemat diantara tatapmu. Ah, bagaimana bisa kau membohongiku dengan
berkata bahwa semua baik-baik saja jika aku lebih sigap membaca sorot matamu?
Jadi, merapuhlah dipelukku saat
langkahmu mulai lumpuh berjalan kedepan melawan kerasnya kehidupan.
Melemahlah disandingku saat hatimu
mulai rapuh menahan segala resah gelisah yang tak hentinya-hentinya menghujam pikiran.
Menangislah dibahuku saat semua
kacau tak dapat lagi kau redam dengan sisa kekuatan, saat air mata tak dapat
lagi kau sembunyikan lewat sederet senyuman.
Lalu…setelah segalanya teratasi. Kembalilah
menuju peraduan, dengan penuh keyakinan. Tak ada yang perlu ditakutkan apa lagi
dikhawatirkan, Tuan. Karna saat kau tengok kebelakang, ada seorang wanita yang
tak pernah ragu akan kemampuanmu, wanita penguat setiap jejak langkahmu menuju
masa depan.
Tuan, kalau kau tak kunjung meyakinkan,
tak mungkin kulanjutkan ataupun mencoba tuk bertahan.

Comments
Post a Comment