Sungguh, hanya kuas dari genggaman jemarimu yang pas mewarnai hidupku.
Boleh kuhentikan waktu barang satu atau dua bulan kebelakang? Saat hati tak begitu peduli tentang kehadiran, seseorang yang jelas-jelas mengitari setiap sudut pandangku tanpa pagar pembatas.
Maaf, jika aku terlampau
lancang ingin selalu berada disekitarmu.
Aku pernah
mencoba berjalan menjejaki laju langkahmu. Belajar menelusupi pola pikir,
beserta inginmu. Juga mengintai setiap gerak-gerik lakumu. Aku pernah ingin
mengintipi setiap sudut isi hatimu, membuatnya merambat menujuku. Menuju muara
hatiku, lalu menyatu, bersatu padu.
Kemudian seseorang menamparku,
berusaha membangunkanku. Dia pikir aku sedang bermimpi. Tapi…mengapa terasa sakit
dipipi? Ini kenyataan yang semu tuk-ku miliki. Tak perlu memaki apa lagi
mencoba memperingati. Sebab aku lebih jeli mencari, meneliti kata yang tertuang
dalam mayanya sendiri. Rupanya sudah ada bidadari pengisi hati. Tenang, aku
sadar diri. Sebentar lagi juga akan angkat kaki lalu pergi.
Sita saja sosok yang
enggan berpaling dari pikiran, yang mulai beranjak menuju kehati sebelum begitu
dalam. Sita saja, tanpa bersisa!
Kau
ternyata begitu rumit. Telalu sulit mencari celah pemecah simpul mati yang kau
buat. Apa sengaja mengikatnya kuat-kuat agar aku tak dapat menggenggammu
erat-erat? Atau aku begitu perasa terhadapmu? Salah mengartikan ucapmu?
Sinyal
yang kau beri harusnya tak kukejar dengan berlari. Karna ternyata jemarimu
belum tentu sudi melingkari setiap jengkal jari-jari tanganku. Ah, kenapa jadi
begini? Aku benci harus pura-pura tak peduli. Padahal aku paling tak ingin kau
pergi. Aku benci harus menahan tanya tentang keadaanmu dari hari kehari, padahal
kekhawatiranku kadung melambung tinggi. Aku benci harus membohongi, hatiku
sendiri.
Bantu aku lewati
segala resah, buat semuanya menjadi lebih mudah; saat aku melangkah.

Comments
Post a Comment