Skip to main content

Inginku cuma satu; kamu.

Sungguh, hanya kuas dari genggaman jemarimu yang pas mewarnai hidupku.

Boleh kuhentikan waktu barang satu atau dua bulan kebelakang? Saat hati tak begitu peduli tentang kehadiran, seseorang yang jelas-jelas mengitari setiap sudut pandangku tanpa pagar pembatas.

Maaf, jika aku terlampau lancang ingin selalu berada disekitarmu.

Aku pernah mencoba berjalan menjejaki laju langkahmu. Belajar menelusupi pola pikir, beserta inginmu. Juga mengintai setiap gerak-gerik lakumu. Aku pernah ingin mengintipi setiap sudut isi hatimu, membuatnya merambat menujuku. Menuju muara hatiku, lalu menyatu, bersatu padu.

Kemudian seseorang menamparku, berusaha membangunkanku. Dia pikir aku sedang bermimpi. Tapi…mengapa terasa sakit dipipi? Ini kenyataan yang semu tuk-ku miliki. Tak perlu memaki apa lagi mencoba memperingati. Sebab aku lebih jeli mencari, meneliti kata yang tertuang dalam mayanya sendiri. Rupanya sudah ada bidadari pengisi hati. Tenang, aku sadar diri. Sebentar lagi juga akan angkat kaki lalu pergi.

Sita saja sosok yang enggan berpaling dari pikiran, yang mulai beranjak menuju kehati sebelum begitu dalam. Sita saja, tanpa bersisa!

Kau ternyata begitu rumit. Telalu sulit mencari celah pemecah simpul mati yang kau buat. Apa sengaja mengikatnya kuat-kuat agar aku tak dapat menggenggammu erat-erat? Atau aku begitu perasa terhadapmu? Salah mengartikan ucapmu? 

Sinyal yang kau beri harusnya tak kukejar dengan berlari. Karna ternyata jemarimu belum tentu sudi melingkari setiap jengkal jari-jari tanganku. Ah, kenapa jadi begini? Aku benci harus pura-pura tak peduli. Padahal aku paling tak ingin kau pergi. Aku benci harus menahan tanya tentang keadaanmu dari hari kehari, padahal kekhawatiranku kadung melambung tinggi. Aku benci harus membohongi, hatiku sendiri.

Bantu aku lewati segala resah, buat semuanya menjadi lebih mudah; saat aku melangkah.

Kalau tidak, biarkan aku mundur pelahan, pelan-pelan.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.