“Selamat
datang” sapa salah satu lelaki yang juga bekerja diresto khusus tuna ini. Sebelum
dia sempat memberika menu. Aku sudah lebih dulu memutuskan pesanan.
“Tuna saos
tiram sama es lemon tea satu”
Tak kugubris reaksi lelaki
didepanku. Mataku sudah jauh berlari-lari menjelajahi seluruh penjuru ruangan
mencari sosok Ilham. Namun tak kutemukan satupun tanda-tanda keberadaannya.
“Nyari
siapa mbak?” tanya lelaki itu heran, masih dengan muka kebingungan.
“Enggak
nyari siapa-siapa kok”
“Oh. Mari silahkan duduk skalian nunggu
pesanannya kami antar”
“Iya
mas”
Lalu kuulangi lagi mencari sosoknya
lebih jeli, lebih teliti dari yang tadi. Tapi…tetap saja nihil yang kudapati. Kuraih
ponsel didalam saku clana jeansku. Dengan cepat jemariku mengetik pesan singkat
yang bertanya tentang keberadannya skarang.
Lima menit, sepuluh menit, lima
belas menit sampai pesananku tiba belum juga ada balasan. Handphone-ku tak
kunjung bergetar. Napsu makanku seketika jadi hilang. Pikiranku bekerja keras
meraba-raba kemungkinan kenapa hari ini Ilham tidak datang.
Ah,
Mas Tara! Pekikku.
Tanpa berpikir panjang lagi aku
mengambil langkah seribu menuju tempat biasanya mas tara kunjungi. Beruntungnya
aku, langsung mendapatinya sedang asik didepan layar laptop.
“Mas
Tara!!!”
“Apa?
Sstt jangan teriak-teriak orangnya aja ada didepan mata”
“Itu..tau
mas Ilham?”
“Enggak
tau”
“Ah
bohooong!!!”
“Astaga
nih anak kebiasa tinggal dihutan apa ya ngomong teriak-teriak”
“Enak
aja kamu mas. Udah ah ngaku aja kamu tau kan?”
“Tau
apa? Ilham? Oh dia baru sakit”
“Hah?
Sakit apa?”
“Hati”
“Ish
ditanyain serius juga”
“Ya aku enggak
tau. Emang sini maminya. Tanya sendirilah sama orangnya”
“Udah,
tapi enggak dibales”
“Kasian”
ledeknya.
Aku memilih untuk diam tak membalas
ucapanya. Beberapa detik kemudian tawanya meledak. Mas Tara memang suka meledek
dan menjailiku. Apa lagi kalau tau aku sedang penasaran seperti sekarang
.
“Enggak
asik gitu aja ngambek”
“Situ
ngebete-in sih. Ditanyain baik-baik jawabnya kaya gitu”
“Hahaha
bercanda neng. Ditunggu aja nanti juga dibales. Namanya orang sakit enggak
mungkin sempat megang hp”
Aku mengangguk, kali ini jawabannya
cukup logis. Kekhawatiranku yang tadinya meninggi saat ini sudah menurun cukup
derastis.
“Bengong!
Pesenanmu dimakan sana keburu diduluin sama laler:
“Omg.
Aku lupa! Makasih ya mas aku balik dulu” tanpa menunggu jawaban dari mas Tara
aku langsung berbalik meninggalkannya. Pantesan mas Tara tau, ternyata mas yang
tadi menyambutku sudah member kode padanya dari kejauhan.
Sepulang dari resto kuhamburkan
tubuhku kedalam ranjang. Kututup mukaku dengan bantal. Tidak lupa menyumpal
telingaku dengan lagu-lagu yang mewakili perasaanku. Pesan singkatku terbalas
setelah sejam menunggu. Lalu berakhir pada pesan yang keenam. Lengkap sudah,
begitu kelam.
Setelah kejadian itu setiap aku
mampir keresto, tak kutemukan sosok Ilham disana. Yang biasanya kita selalu
bertukar pesan skarang jadi jarang sekali namanya mengisi inbox handphone-ku. Rasanya
ada yang kurang, separuh diriku seperti hilang. Apa yang harus kulakukan selain
berharap dia akan kembali datang?
Sungguh, aku belum terbayang jika
pada akhirnya ia tak kunjung pulang kedalam pelukkan. Berusaha mati-matian
menolak perasaanku yang kadung tumbuh semakin dalam? Mengubur paksa harapan
yang semestinya berkembang menjadi kenyataan? Kalau saja aku termasuk dalam
salah satu orang yang mudah melupakan, lakukan saja sekarang. Tapi…tapi kau tau
aku bukan yang dengan mudah jatuh cinta lalu dapat begitu saja melepaskan, kan?
Hari ini kuhabiskan dalam kamar. Butuh
waktu untuk menenangkan diri sendirian. Tak ada yang sanggup menghiburku selain
mendengar kabar baik dari dirinya. Membiarkan perasaanku beradu dengan logika. Tegaskan
padaku, yakinkan aku jika ini sebenarnya bukan cinta. Sebab haruskah hatiku
merasakan luka untuk kesekian kalinya?
Why are you so far away. You know it’s very
hard for me to get myself close to you. kuintip layar handphone-ku. Ada satu pesan
baru.
From : Mas Tara
Ilham besok Rabu
masuk.
Kuurungkan niatku untuk membalas
pesan dari mas Tara. Masih menimbang-nimbang untuk datang dan membiarkan
perasaan kembali kebeberapa bulan silam atau tidak datang dan meneruskan
usahaku untuk melupakan. Melupakan? Ah bagian ini harusnya kuralat. Menghilangkan
baying-bayangnya salama lima menit saja aku sudah tak tahan.
Ini hari senin
masih ada satu hari lagi untuk berpikir.
Rabu, 25 desember 2013.
Setelah perasaanku
berhasil memporakporandakan logika. Akhirnya untuk kesekian kalinya kulangkahkan kakiku
menjejaki tempat yang seharusnya kuhindari beberapa hari ini. Aku mengambil
tempat duduk paling jauh dari dapur utama. Menghindari mataku yang selalu saja
mencar-cari sosoknya.
Belum sempat aku memanggil salah
seorang untuk mencatat pesananku sudah datang lelaki berbalut kaos hitam dengan
clana jenas panjang menghampiriku.
“Mau
pesen apa?”
“Seperti
biasanya”
“Oke.
Ditunggu dulu ya”
Lelaki itu tersenyum lalu berbalik badan. Sebelum dia
melangkahkan kaki meninggalkan mejaku. Dengan pikiran yang masih
melayang-layang entah kemana aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Kemaren
sakit ya? Udah lama enggak keliatan”
“Iya.
Kemaren juga baru sibuk ngurus wisuda kuliah”
“…”
“Udah
dulu ya, harus kedapur skarang” sambungnya,
“Oh..emm
iya iya” aku mengangguk. Ada yang berbeda tak seperti biasanya. Adayang berubah
dari tatapan matanya. Secepat itukan
Tuhan membolak-balik perasaan hambanya?
Sambil menunggu pesanan diantar, aku
mengambil ponselku dari dalam tas. Menekan icon bernama “note” lalu kutulis
surat ketigaku untuk lelaki itu. Inginku cuma satu; kamu.
“SIlahkan,
selamat makan”
“Iya.
Makasih”
“Yap”
Ini makanan favoritku. Tuna bakar
madu. Sesendok pertama masih terasa candu, sendok kedua dan ketiga kenapa jadi
pilu? Kulanjutkan saja memakannya hingga terasa kelu.
Aku menunggu, tapi ternyata dia tak
kunjung menghampiriku.
Selesai makan kuputuskan untuk
langsung pulang. Tak ingin tetap tinggal ataupun pergi mencari udara segar. Sungguh
kali ini keadaan melumpuhkanku, meluruhkan air mataku, mebius pikiranku. Bisakah
aku mengasingkan diri untuk beberapa bulan mendatang? Membiarkan diriku
terbiasa tanpa kehadirannya seperti dulu, sebelum kita bertemu.
Kututup hariku dengan air yang
menggenang dipelupuk mataku. Dengan perasaan yang masih menggantung dilangit kamarku. Yang
tak mungkin lagi menyatu; menggenapi rusukku.
Waktu terasa cepat berlalu. Sudah enam
bulan semenjak kejadian itu. Ilham tak pernah menyisihkan waktunya untuk
mengupayakan bertemu denganku. Begitu sulit kulalui bulan-bulan pertama tanpa
kehadirannya disisiku. Mencegah sosoknya hadir disetiap mimpiku. Menepis bayangnya
yang kerap muncul dalam lamunanku. Menahan rindu yang tak sanggup lagi kulunasi
dengan melihat senyumnya seperti dulu.
Ilham Baratra Putra. Kita memang tak
pernah berkata tentang rasa, tak pernah berucap tentang rindu. Aku juga tak
pernah mengisyaratkan apapun padamu, kaupun juga begitu padaku. Tapi…sebenarnya
aku tau apa yang kau sembunyikan dalam hati kecilmu. Aku tau walau tak kudengar
langsung dari bibirmu. Aku menitipkan surat terakhirku pada mas Tara yang
kutuliskan untukmu.
Teruntuk : Ilham Baratra Putra
Mungkin
skarang aku menjadi salah satu orang yang tak tau bagaimana keadaanmu, apa yang
menjadi kesibukanmu, dan dimana keberadaanmu. Tapi kau pasti bahagia, kan? Yang
aku tau hanya itu. Sebab aku tak pernah lupa menyelipkan namamu dalam doaku. Berharap
bahagia selalu mengiringi setiap langkahmu dan Tuhan pasti mendengar doaku. Kalau
kau tanya bagaimana kabarku skarang. Aku baik-baik saja dan tentunya bahagia
melihatmu juga bahagia.
Ohya sebesar
apa resto yang dulu aku kunjungi itu? Apa sudah lebih terkenal dari dirimu? Hahaha.
Aku yakin kau sudah jauh lebih sukses dari hari terakhir kita bertemu. Wisudamu
juga lancer-lancar saja kan? Ah, harusnya kau mengundangku waktu itu. Begitu bangganya
aku dapat melihatmu mengenakan toga dihari kelulusanmu.
Waktu begitu
cepat berlalu, ya? Aku harap kau tak benar-benar melupakanku. Walaupun kita tak
pernah saling bertemu. Ini surat terakhirku untukmu. Maaf ya sudah terlalu
banyak melibatkanmu dalam tulisan-tulisanku.
Pesan terakhirku.
Aku tau kamu sibuk, banyak yang harus kau kerjakan dari pagi hingga dini hari. Tapi
sepanjang itu jangan lupa jaga kondisi dan pola makanmu. Jangan sampai aku
mendengar kabar kau sakit lagi seperti waktu itu.
Semoga satuan waktu memberi kesempatan padaku untuk bertemu denganmu.
Semoga satuan waktu memberi kesempatan padaku untuk bertemu denganmu.
Salam hangat,
Pelanggan setia-mu.
Selesai.
Comments
Post a Comment