Skip to main content

Begitu singkat, Tuan.

Dibalik jendela, setelah bulan, ada hujan yang setia mengisi malam. Semua terasa begitu kelam. Mengganjal pikiran, ingin kumuntahkan lewat tulisan sebelum mataku lelah lalu terpejam.

Ada harap tentang-mu yang kusipikan dibalik rintik hujan. 
 

Hujan,

Aku sering melihatmu menghabiskan waktu bersama Tuan yang duduk dibangku paling ujung, yang sedang asik mendengarkan lagu. Aku pernah melihatmu tiba-tiba turun saat Tuan datang, untuk sekedar memberitahu bahwa kau akan selalu hadir mengisi hari-harinya yang kelabu.

Bagaimana bisa berada disekitarnya tanpa perlu malu-malu? 

Pasti kau disuguhi berbagai jenis canda dan tingkahnya yang lucu. Membuat didih kepalaku, aku iri padamu.

Hujan,

Bolehkah aku menjadi bagian dari dirimu? 

Membelah diri menjadi seribu, lalu berubah menjadi butir-butir air yang siap menghujani tubuh Tuan itu. Agar aku mampu mendekap bahu kokoh yang tak mungkinku jamah dengan jemari maupun kedua tanganku. Agar aku tak perlu memikirkan berjuta-juta alasan untuk sekedar berada tepat disamping Tuan saat itu.

Bulan,

Sudah lama kau menjadi penerang saat Tuan merasa kesepian diantara gelapnya malam. 

Mengeluh saja padaku, jangan canggung-canggung. Bukankah itu cukup melelahkan, kan?

Jangan khawatir, kita bisa bertukar posisi sekarang. Biar aku yang menggantikan, meneranginya dengan sisa kekuatan. Sebab aku tau Tuan sering terjaga hingga fajar menjelang, tak mungkin aku memberiakannya termenung sendirian.

Bulan,

Perkenalkan aku dengan bintang-bintang. Dekatkan dengan yang paling bersinar, yang sering menggoda Tuan saat dia duduk terdiam. Berkedip-kedip tepat didepan air muka hingga membuat Tuan tersenyum melihat pesona cahyanya. 

Ah, ingin rasanya kutitip salam beserta rindu padanya. Kugantung bersama bintang yang tersebar diangkasa. Agar Tuan tau setelah ini akan ada banyak rindu yang kusimpan dalam diam, akan ada aku yang lebih sering memendam segalanya sendirian. Sebab waktuku tinggal sedikit lagi, dan tak tau kapan dapat bertemu Tuan kembali.

Kurasa tulisan ini sudah lebih dari cukup, maaf terlalu lancang menuliskan tentang dirimu, Tuan. Hanya sedikit menuangkan yang selalu berlari-lari dipikiranku beberapa hari ini.
10.12.13


Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...