Skip to main content

Posts

Lagi-lagi soal hati

Kalau aku tak sanggup mengungkap yang semestinya terucap. Haruskah pena ini berdansa mengiringi irama nada didada? Sepertinya kau tau, aku pun rindu. Aku memang tak banyak berbicara apa lagi berkata tentang rasa. Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya? Atau jangan-jangan kau lebih ahli menilai melalui kerlingan mata? Menangkap yang tersirat saat kita saling bertatap, ada cinta yang bermuara didalamnya. Karna kau mungkin tak akan pernah tau apa yang sedang berosak-asik dipikiranku. Yang tiba-tiba menelusup, menyelinap masuk diantara degup jantungku. Setiap kau menatap air mukaku. Cukup!  Biarkan aku menghela nafas tanpa bayang parasmu yang menguap mengudara setelahnya. Tersenggal-senggal aku dibuatnya. Belum lagi bibirku yang tak berhenti menyungging, mengingat kata-kata manis penuh magis yang kau rangkai dengan begitu sederhana saat kita berjumpa. Kau begitu menguasi semesta, tanpa menyisakan celah tuk sekedar menyapa kejora diantero jagad raya. Apa kau merasakan hal ...

Pangeran muda

Malam ini pikiranku melayang mengudara Mengitari bintang-bintang diujung angkasa Berdansa bersama rembulan berlagukan cinta Hai pangeran muda! Apa yang sedang kau lakukan diluar sana? Berhentilah menatapku begitu Membuat degup jantungku tak menentu Kau tau kan aku gagu berkata rindu? Walau begitu... Jangan pernah ragu Apa lagi pergi meninggalkanku Sebab namamu sudah melekat dihatiku 21.50 . Mataku tak kunjung mengatup masih menunggu pesan singkat darimu.   .

Terimakasih cinta, maaf membuatmu terluka.

Tak ada kata yang dapat mengungkap seberapa besar kepeduliannya padaku. Tak ada angka yang dapat menghitung banyaknya cinta yang dia berikan padaku. Harusnya aku begitu bahagia, sebab doa diatas lukaku ini kini menjadi nyata. Begitu nyata. Namun mengapa Tuhan tak kunjung menghardikkan rasa? Aku kehabisan cara. Begitu dalam luka memar dirongga dada hingga rasanya hatiku ini seperti mati rasa. Tak sanggup lagi membedakan segala yang disebut cinta, semua sama saja. Apa yang sedang berotasi dipikiranmu sampai-sampai luka kau anggap bukan apa-apa? Kau bilang kau baik-baik saja? Dengan air mata yang mengambang dipelupuk matamu, iya? Jangan bohongi aku soal hati. Aku bisa menjadi yang paling mengerti setelah apa yang pernah kualami. Apa hanya dengan alasan cinta dan setia kau bertahan? Perasaan seperti apa yang slama ini kau tanam kalau aku tak pernah berencana memupuknya begitu dalam. Jangan pandang aku dengan wajah muram! Aku tak sampai hati menatap air mukamu, begitu kelam denga...

Cinta kita berbeda, berjeda.

Bagaimana bisa Tuhan menyumat rasa setelah detik pertama aku menatap matanya? Seperti halilintar menyambar semesta. Mata tajamnya begitu erat menyemat detak tak bernada. Mengorak-arik pikir memporak-porandakan logika. Kenapa kau begitu sempurna diantara indahnya dunia? Rasanya ingin menghilang ditelan bayang pantulan senja. Sebelum matanya menangkap sosok yang sedari tadi menatap bentuk likuk paras tampannya. Kenapa cinta begitu melekat diantara kita? Rasaku begitu nyata padannya. Tak dapat mengelak cinta yang tumbuh semakin dalam tak berdasar didada. Kenapa Tuhan tak cepat-cepat mengakhiri cinta yang mulai meraja dijiwa? Cinta yang jelas-jelas diharamkan dalam agama. Cinta yang jelas-jelas tak dapat kupertahankan hanya dengan alasan setia. Sebab kita berbeda, walau cinta yang kita punya sempurna. Tuhan kita sama-sama satu. Kepercayaan kita yang tak dapat menyatu. Bukankah setiap agama mulia? Walau disisi lain kita amat sangat jauh berbeda. Rasanya ingin tetap bertahan...

Ibu

Serupa besi baja kau tak pernah hancur sekalipun dihantam beban yang tak henti meluncur. Hati sekokoh apa yang Tuhan berikan padamu, bu? Hingga tak ada alasan tuk terjatuh walau tubuh mulai merapuh. Kekuatan sebesar apa lagi yang tertanam mengakar dihati? sampai-sampai lelah tak mampu berdengus lemah. Lara dan derita seperti apa yang belum kau cicipi dalam perjuangan mempertahankan kebahagiaan keluarga kita. Sederas peluh pun tak sanggup membuatmu mengeluh. Ajarkan aku menjadi sosok wanita tangguh. Yang tetap tersenyum walau cobaan berusaha membuatku tersungkur, terjatuh. Wanita berhati mulia, bertutur kata bagai mutiara. Beribu kebahagiaan kau tenun tak mengenal waktu. Sejuta cinta kau berikan tanpa jeda. Menjaga sepenuh jiwa. Pemberi nasihat menuju bahagia. Walaupun sesekali kau memaksaku mencicipi teguran dan omelan disetiap hari-hari yang kujalani. Sepucuk harap menjuntai setinggi mentari pagi. Harap untuk bidadari kecil yang tumbuh dari rahim malaikat surgawi. Ber...

Sahabat, kau yang terhebat.

Sudah lama kita tak  saling sapa. Rindukah kau berbagi tawa bersama? Cerita apa lagi yang akan kau bagi? Cobaku tebak, pasti tentang seseorang yang sedang singgah dihati atau tentang kita yang selalu berjalan beriringan setiap hari? Sahabat, kau penyumat semangat setiap saat. Cerita-ceritaku mulai mengarat. Rasanya sudah berabad-abad dibiarkan tak terawat. Aku tak sanggup lagi menyumbat mulut agar terus mengatup. Memendam segala yang biasanyaku sisihkan sebagian untuk diperbincangkan. Kapan kita dapat saling bertukar cerita? Menghilangkan penat atau saling berpeluk erat. Waktu tak berpihak padaku saat ini, tak kunjung memberi kesempatan untuk sekedar saling menatap  walau hanya sekejap. Tolong, untuk kali ini saja waktu. Aku membutuhkan dekap terhangat dan genggaman terkuat. Sebab semangatku mulai meredup, pandanganku semakin mengabut. Jangan kira rindu tak menghampiriku, saat jarak membuat kita tak dapat saling bertemu. Dulu kita sempat seatap saat menun...

Aku lelah, kau pantang menyerah.

Aku berjalan diantara kerumunan. Berusaha menghilang tanpa menyisakan jejak maunpun bayang-bayang. Sambil sesekali melirik kekiri dan kekanan. Apakah sosoknya sudah menghilang dari pandangan? Tanganku gemetar, mulutku bergelotakkan menahan ketakutan. Sebenarnya sosoknya tak seseram apa yang kau bayangkan. Hanya saja aku malas harus terus berhadapan menahan rasa kesal. Harus berapa kali ku jelaskan kalau aku tak benar-benar menginginkan apa yang sedang kau tawarkan? Tunjukkan saja, yakinkankan aku selama kau bisa. Tapi aku tak akan menjanjikan apa-apa. Sebab kau tau sendiri aku baru tidak ingin menggenggam cinta yang melulu soal kata dan berujung luka. Waktuku begitu berharga, untuk sekedar mencicipi cinta yang akan padam dalam jangka waktu yang sanggup dihitung dentum jarum jam. Kenapa kau tak kunjung menyerah? Kenapa kau masih tetap bertahan kalau aku jelas-jelas tak menginginkan kebersamaan? Kalimatku begitu sederhana, sesulit itukah untuk kau cerna? Beberapa kejadian me...