Skip to main content

Cinta kita berbeda, berjeda.

Bagaimana bisa Tuhan menyumat rasa setelah detik pertama aku menatap matanya?

Seperti halilintar menyambar semesta. Mata tajamnya begitu erat menyemat detak tak bernada. Mengorak-arik pikir memporak-porandakan logika. Kenapa kau begitu sempurna diantara indahnya dunia? Rasanya ingin menghilang ditelan bayang pantulan senja. Sebelum matanya menangkap sosok yang sedari tadi menatap bentuk likuk paras tampannya.

Kenapa cinta begitu melekat diantara kita?

Rasaku begitu nyata padannya. Tak dapat mengelak cinta yang tumbuh semakin dalam tak berdasar didada. Kenapa Tuhan tak cepat-cepat mengakhiri cinta yang mulai meraja dijiwa? Cinta yang jelas-jelas diharamkan dalam agama. Cinta yang jelas-jelas tak dapat kupertahankan hanya dengan alasan setia. Sebab kita berbeda, walau cinta yang kita punya sempurna.

Tuhan kita sama-sama satu. Kepercayaan kita yang tak dapat menyatu. Bukankah setiap agama mulia? Walau disisi lain kita amat sangat jauh berbeda. Rasanya ingin tetap bertahan walau terhalang tebing tinggi menjuntai mengitari cerita cinta kita. Bukankah cinta itu anugrah? Bukankah cinta itu indah? Jadi sampai kapan aku harus bersandiwara menganggap semua baik-baik saja? Terlalu sulit bagiku mengakhiri cinta yang begitu sempurna tanpa berbuih air mata.

Cinta menyatukan namun cinta juga membuat kita berpisah.

Kalimat yang selalu mengaung diindra pendengar. Masih tak habis pikir, seperti kehilangan akal mencari kesunyian diantara hingar bingar. Pikiranku memencar, jalan apa yang semestinya kuambil jika namanya terlanjur mangakar? Sekeras apapun aku bertahan, setelah sampai ujung jalan. Semua ini pasti akan berakhir, kan? Tuhan..apa yang sebenarnya kau rencanakan. Katakan. Sebab hambamu ini tak ingin menyimpang dari aturan.


Tuhan kau tau cintaku begitu dalam padanya. Dan Kau pun tau aku tak mungkin melanggar apa yang telah tercatat dalam agama. Kuatkan aku menyudahi segala rasa yang kupunya saat bersamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.