Bagaimana bisa Tuhan menyumat rasa setelah detik pertama aku menatap
matanya?
Seperti halilintar menyambar
semesta. Mata tajamnya begitu erat menyemat detak tak bernada. Mengorak-arik
pikir memporak-porandakan logika. Kenapa kau begitu sempurna diantara indahnya
dunia? Rasanya ingin menghilang ditelan bayang pantulan senja. Sebelum matanya
menangkap sosok yang sedari tadi menatap bentuk likuk paras tampannya.
Kenapa cinta begitu melekat diantara kita?
Rasaku begitu nyata padannya. Tak dapat
mengelak cinta yang tumbuh semakin dalam tak berdasar didada. Kenapa Tuhan tak
cepat-cepat mengakhiri cinta yang mulai meraja dijiwa? Cinta yang jelas-jelas
diharamkan dalam agama. Cinta yang jelas-jelas tak dapat kupertahankan hanya
dengan alasan setia. Sebab kita berbeda, walau cinta yang kita punya sempurna.
Tuhan kita sama-sama satu. Kepercayaan
kita yang tak dapat menyatu. Bukankah setiap agama mulia? Walau disisi lain kita
amat sangat jauh berbeda. Rasanya ingin tetap bertahan walau terhalang tebing
tinggi menjuntai mengitari cerita cinta kita. Bukankah cinta itu anugrah? Bukankah
cinta itu indah? Jadi sampai kapan aku harus bersandiwara menganggap semua baik-baik
saja? Terlalu sulit bagiku mengakhiri cinta yang begitu sempurna tanpa
berbuih air mata.
Cinta
menyatukan namun cinta juga membuat kita berpisah.
Kalimat yang selalu mengaung diindra
pendengar. Masih tak habis pikir, seperti kehilangan akal mencari kesunyian
diantara hingar bingar. Pikiranku memencar, jalan apa yang semestinya kuambil
jika namanya terlanjur mangakar? Sekeras apapun aku bertahan, setelah sampai
ujung jalan. Semua ini pasti akan berakhir, kan? Tuhan..apa yang sebenarnya kau
rencanakan. Katakan. Sebab hambamu ini tak ingin menyimpang dari aturan.
Tuhan kau tau cintaku begitu dalam padanya. Dan
Kau pun tau aku tak mungkin melanggar apa yang telah tercatat dalam agama. Kuatkan
aku menyudahi segala rasa yang kupunya saat bersamanya.
Comments
Post a Comment