Tak ada kata yang dapat mengungkap seberapa besar
kepeduliannya padaku. Tak ada angka yang dapat menghitung banyaknya cinta yang
dia berikan padaku.
Harusnya aku
begitu bahagia, sebab doa diatas lukaku ini kini menjadi nyata. Begitu nyata. Namun
mengapa Tuhan tak kunjung menghardikkan rasa? Aku kehabisan cara. Begitu dalam
luka memar dirongga dada hingga rasanya hatiku ini seperti mati rasa. Tak sanggup
lagi membedakan segala yang disebut cinta, semua sama saja.
Apa yang sedang
berotasi dipikiranmu sampai-sampai luka kau anggap bukan apa-apa? Kau bilang
kau baik-baik saja? Dengan air mata yang mengambang dipelupuk matamu, iya? Jangan
bohongi aku soal hati. Aku bisa menjadi yang paling mengerti setelah apa yang
pernah kualami. Apa hanya dengan alasan cinta dan setia kau bertahan? Perasaan
seperti apa yang slama ini kau tanam kalau aku tak pernah berencana memupuknya
begitu dalam. Jangan pandang aku dengan wajah muram! Aku tak sampai hati
menatap air mukamu, begitu kelam dengan kesedihan. Cukup kesunyian dan keheningan
mengitari setiap paruh waktuku. Aku sudah merasa nyaman skarang.
Seperti bercermin, menemukan diriku dalam pantulan
sosokmu
Aku tahu betul
apa yang sedang berkecamuk dipikiranmu. Aku tahu betul rasanya berada
diposisimu. Dan sebenarnya aku juga tau bagaimana cara membuat hari-harimu
menjadi seindah pelangi tanpa kesedihan yang mengitari tepian lekuk lengkung
siluetnya, sebut saja itu senyummu. Kenapa kau mengeryit setelah selesai membaca
kalimat terakhirku? Kau pikir aku sok tau? Bagaimana aku tidak tau kalau aku
pernah berada dalam posisi yang sama sepertimu. Rasanya kepalaku ingin meledak saat
kau menjejaliku sejuta bom pertanyaan yang sama berulang kali. Kau pikir aku
tak melakukan apa-apa untuk mengobati luka yang menyayat setiap inci dihatiku
ini? Aku mencobanya setiap hari, mengerti? Namun sampai detik ini aku belum
bisa memungkiri…aaah hatiku terlalu rumit untuk dipahami. Atau mungkin ada
rencana lain yang Tuhan miliki? Sampai aku sulit untuk bisa jatuh hati lagi, saat
ini.
Terimakasih sudah memberiku kekuatan. Terimakasih sudah
menyakinkan bahwa aku tidak sendirian.
Bagai menolak
permata yang sudah susah payah kucari dalam jerami. Suatu saat nanti mungkin kau
jadi yang paling kucari. Seperti kata-kata yang sering kutemukan akhir-akhir
hari ini. Terimakasih. Harus kuucapkan berapa kali lagi? Tidak perlu melakukan
hal-hal berlebihan apa lagi yang merugikan diri sendiri. Sungguh aku bukan yang
ingin meyakiti. Sebab aku tau bagaimana rasanya menahan sesak sendiri. Aku tau rasanya
begitu sulit untuk tidak menggenggam seseorang yang kita sayangi.
Maaf jika
membuatmu menjadi serupa aku. Merasakan luka disekujur rongga dada hingga waktu tak dapat memulihkan
kenangan saat rindu tiba-tiba menyapamu.
Comments
Post a Comment