Skip to main content

Terimakasih cinta, maaf membuatmu terluka.


Tak ada kata yang dapat mengungkap seberapa besar kepeduliannya padaku. Tak ada angka yang dapat menghitung banyaknya cinta yang dia berikan padaku.

Harusnya aku begitu bahagia, sebab doa diatas lukaku ini kini menjadi nyata. Begitu nyata. Namun mengapa Tuhan tak kunjung menghardikkan rasa? Aku kehabisan cara. Begitu dalam luka memar dirongga dada hingga rasanya hatiku ini seperti mati rasa. Tak sanggup lagi membedakan segala yang disebut cinta, semua sama saja.

Apa yang sedang berotasi dipikiranmu sampai-sampai luka kau anggap bukan apa-apa? Kau bilang kau baik-baik saja? Dengan air mata yang mengambang dipelupuk matamu, iya? Jangan bohongi aku soal hati. Aku bisa menjadi yang paling mengerti setelah apa yang pernah kualami. Apa hanya dengan alasan cinta dan setia kau bertahan? Perasaan seperti apa yang slama ini kau tanam kalau aku tak pernah berencana memupuknya begitu dalam. Jangan pandang aku dengan wajah muram! Aku tak sampai hati menatap air mukamu, begitu kelam dengan kesedihan. Cukup kesunyian dan keheningan mengitari setiap paruh waktuku. Aku sudah merasa nyaman skarang.

Seperti bercermin, menemukan diriku dalam pantulan sosokmu

Aku tahu betul apa yang sedang berkecamuk dipikiranmu. Aku tahu betul rasanya berada diposisimu. Dan sebenarnya aku juga tau bagaimana cara membuat hari-harimu menjadi seindah pelangi tanpa kesedihan yang mengitari tepian lekuk lengkung siluetnya, sebut saja itu senyummu. Kenapa kau mengeryit setelah selesai membaca kalimat terakhirku? Kau pikir aku sok tau? Bagaimana aku tidak tau kalau aku pernah berada dalam posisi yang sama sepertimu. Rasanya kepalaku ingin meledak saat kau menjejaliku sejuta bom pertanyaan yang sama berulang kali. Kau pikir aku tak melakukan apa-apa untuk mengobati luka yang menyayat setiap inci dihatiku ini? Aku mencobanya setiap hari, mengerti? Namun sampai detik ini aku belum bisa memungkiri…aaah hatiku terlalu rumit untuk dipahami. Atau mungkin ada rencana lain yang Tuhan miliki? Sampai aku sulit untuk bisa jatuh hati lagi, saat ini.

Terimakasih sudah memberiku kekuatan. Terimakasih sudah menyakinkan bahwa aku tidak sendirian.

Bagai menolak permata yang sudah susah payah kucari dalam jerami. Suatu saat nanti mungkin kau jadi yang paling kucari. Seperti kata-kata yang sering kutemukan akhir-akhir hari ini. Terimakasih. Harus kuucapkan berapa kali lagi? Tidak perlu melakukan hal-hal berlebihan apa lagi yang merugikan diri sendiri. Sungguh aku bukan yang ingin meyakiti. Sebab aku tau bagaimana rasanya menahan sesak sendiri. Aku tau rasanya begitu sulit untuk tidak menggenggam seseorang yang kita sayangi.

Maaf jika membuatmu menjadi serupa aku. Merasakan luka disekujur  rongga dada hingga waktu tak dapat memulihkan kenangan saat rindu tiba-tiba menyapamu. 

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.