Kalau aku tak sanggup
mengungkap yang semestinya terucap. Haruskah pena ini berdansa mengiringi irama
nada didada?
Sepertinya kau tau, aku pun rindu.
Aku memang
tak banyak berbicara apa lagi berkata tentang rasa. Tapi bagaimana kau bisa
mengetahuinya? Atau jangan-jangan kau lebih ahli menilai melalui kerlingan
mata? Menangkap yang tersirat saat kita saling bertatap, ada cinta yang
bermuara didalamnya. Karna kau mungkin tak akan pernah tau apa yang sedang
berosak-asik dipikiranku. Yang tiba-tiba menelusup, menyelinap masuk diantara
degup jantungku. Setiap kau menatap air mukaku.
Cukup!
Biarkan
aku menghela nafas tanpa bayang parasmu yang menguap mengudara setelahnya.
Tersenggal-senggal aku dibuatnya. Belum lagi bibirku yang tak berhenti
menyungging, mengingat kata-kata manis penuh magis yang kau rangkai dengan
begitu sederhana saat kita berjumpa. Kau begitu menguasi semesta, tanpa
menyisakan celah tuk sekedar menyapa kejora diantero jagad raya. Apa kau
merasakan hal yang sama? Mendengar kata-katamu semalam sepertinya iya. Kita
seperti orang jatuh cinta. Ah tidak mungkin, batinku.
Tunggu dulu, beri aku waktu.
Bunuh
raguku, jadikan saja menjadi rindu. Bantu aku benamkan pilu, rengkuh segala
resah yang menggaduhkan kalbu. Biarkan rapuhku meluruh satu demi satu, sampai
akhirnya hilang serupa abu, dibahumu. Karna aku benar-benar lelah menunggu.
Menunggu hatiku sanggup mempercayaimu.
Memang hatiku yang sulit menyatu, bukan
karna aku meragukan kesungguhanmu.
Comments
Post a Comment