Skip to main content

Lagi-lagi soal hati

Kalau aku tak sanggup mengungkap yang semestinya terucap. Haruskah pena ini berdansa mengiringi irama nada didada?

Sepertinya kau tau, aku pun rindu.
Aku memang tak banyak berbicara apa lagi berkata tentang rasa. Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya? Atau jangan-jangan kau lebih ahli menilai melalui kerlingan mata? Menangkap yang tersirat saat kita saling bertatap, ada cinta yang bermuara didalamnya. Karna kau mungkin tak akan pernah tau apa yang sedang berosak-asik dipikiranku. Yang tiba-tiba menelusup, menyelinap masuk diantara degup jantungku. Setiap kau menatap air mukaku.

Cukup! 
Biarkan aku menghela nafas tanpa bayang parasmu yang menguap mengudara setelahnya. Tersenggal-senggal aku dibuatnya. Belum lagi bibirku yang tak berhenti menyungging, mengingat kata-kata manis penuh magis yang kau rangkai dengan begitu sederhana saat kita berjumpa. Kau begitu menguasi semesta, tanpa menyisakan celah tuk sekedar menyapa kejora diantero jagad raya. Apa kau merasakan hal yang sama? Mendengar kata-katamu semalam sepertinya iya. Kita seperti orang jatuh cinta. Ah tidak mungkin, batinku.

Tunggu dulu, beri aku waktu.
Bunuh raguku, jadikan saja menjadi rindu. Bantu aku benamkan pilu, rengkuh segala resah yang menggaduhkan kalbu. Biarkan rapuhku meluruh satu demi satu, sampai akhirnya hilang serupa abu, dibahumu. Karna aku benar-benar lelah menunggu. Menunggu hatiku sanggup mempercayaimu.

                                    Memang hatiku yang sulit menyatu, bukan karna aku meragukan kesungguhanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.