Serupa besi baja kau
tak pernah hancur sekalipun dihantam beban yang tak henti meluncur.
Hati sekokoh apa yang Tuhan
berikan padamu, bu? Hingga tak ada alasan tuk terjatuh walau tubuh mulai
merapuh. Kekuatan sebesar apa lagi yang tertanam mengakar dihati? sampai-sampai
lelah tak mampu berdengus lemah. Lara dan derita seperti apa yang belum kau
cicipi dalam perjuangan mempertahankan kebahagiaan keluarga kita. Sederas peluh
pun tak sanggup membuatmu mengeluh. Ajarkan aku menjadi sosok wanita tangguh. Yang
tetap tersenyum walau cobaan berusaha membuatku tersungkur, terjatuh.
Wanita berhati mulia, bertutur kata bagai mutiara.
Beribu kebahagiaan kau tenun tak
mengenal waktu. Sejuta cinta kau berikan tanpa jeda. Menjaga sepenuh jiwa.
Pemberi nasihat menuju bahagia. Walaupun sesekali kau memaksaku mencicipi teguran
dan omelan disetiap hari-hari yang kujalani. Sepucuk harap menjuntai setinggi
mentari pagi. Harap untuk bidadari kecil yang tumbuh dari rahim malaikat surgawi. Bersabarlah menanti, sebab bidadari
kecilmu ini sedang mengurai mimpi. Berusaha melengkungkan senyuman terindah
yang pernah kau miliki.
Tubuhku masih kuat menopang lelah yang terselip diantara senyum saat
menjagaku.
Tak perlu bersembunyi ataupun
menutupi beban yang sedang mengganjal dihati. Aku bisa membaca mimik wajahmu
secara rapi. Bukankah seorang anak dengan ibunya memiliki telepati yang tak
bisa dibohongi? Berusaha menggunakan berbagai cara memungkiri, tetap saja kita ahli
tuk saling memahami. Ibu, kau bisa membagi rasa letih yang menghujam sekujur
tubuhmu kepadaku. Bahuku masih cukup kuat menopang sepersekian dari bebanmu. Tak
perlu ragu apa lagi malu. Karna aku selalu menunggu saat dimana kita dapat
saling berbagi segala-galanya berdua, kau dan aku.
Aku menyayangimu melebihi yang kau tau, ibu.
Mungkin masih banyak gengsi yang
tertanam didasar hati. Masih belum menemukan bagaimana cara menyuarakan yang
menganjal sepanjang hari. Ataupun mengungkap rindu yang sebenarnya hadir saat
jarak berlari menuju kemari.
Walau kita tak sering berbagi
cerita bersama, walau kecupan dengan pelukan hangat tak mendarat ditubuhku ini. Katakan
padaku kalau Itu bukan pertimbangan seberapa besar cinta yang kita miliki. Karna
sebenarnya kita yang paling hebat mencintai.
Aku kehabisan kata tak sanggup mendiskripsikan begitu bahagia dan
sempurnanya hidupku dengan kau disekelilingnya, ibu.
Comments
Post a Comment