Skip to main content

Sahabat, kau yang terhebat.


Sudah lama kita tak  saling sapa. Rindukah kau berbagi tawa bersama?
Cerita apa lagi yang akan kau bagi?
Cobaku tebak, pasti tentang seseorang yang sedang singgah dihati atau tentang kita yang selalu berjalan beriringan setiap hari?

Sahabat, kau penyumat semangat setiap saat.

Cerita-ceritaku mulai mengarat. Rasanya sudah berabad-abad dibiarkan tak terawat. Aku tak sanggup lagi menyumbat mulut agar terus mengatup. Memendam segala yang biasanyaku sisihkan sebagian untuk diperbincangkan. Kapan kita dapat saling bertukar cerita? Menghilangkan penat atau saling berpeluk erat. Waktu tak berpihak padaku saat ini, tak kunjung memberi kesempatan untuk sekedar saling menatap  walau hanya sekejap. Tolong, untuk kali ini saja waktu. Aku membutuhkan dekap terhangat dan genggaman terkuat. Sebab semangatku mulai meredup, pandanganku semakin mengabut.

Jangan kira rindu tak menghampiriku, saat jarak membuat kita tak dapat saling bertemu.

Dulu kita sempat seatap saat menuntut ilmu sebelum akhirnya berpisah. Jarak dan cita-cita memang punya alasan yang tak sanggup dibantah. Tak memperdulikan rindu yang semakin tumpah ruah ataupun komunikasi yang semakin melemah. Hingga terkadang bunga tidur ikut berperan, mempertemukan kita  dengan cara yang tak terduga-duga, ditempat yang indah.

Ini bukan akhir cerita yang sanggup kita ukir bersama. Aku percaya pasti ada rencana sederhana yang diam-diam kau rajut dan akupun punya mimpi yang inginku gapai, ku gantungkan setinggi langit. Agar kita dapat merengkuhnya bersama-sama.

Aku berdiri di sisi belakang, tak terekam pandang. Membaca gerak-gerik yang sedang kau lakukan.

Kalaupun hadirku tak tampak secara nyata; kasat mata. Ketahuilah sahabat, aku selalu berdiri dibelakangmu, bersiap-siap mencerna segala macam sambat sebab gurat luka yang mungkin tiba-tiba ingin kau muntahkan tepat dihadapanku. Karna kesedihan yang kau rasakan juga mengikis sesak disudut hatiku. Air mata yang kau jatuhkan serupa pisau menyayat jantungku.

Jangan pernah menganggap kau sendiri, datang kemari lalu aku akan menemani. Mengisi hari-hari.

Memendam sendirian bukan perkara yang mudah. Aku tahu betul rasanya. Jadi, datang kesini kapanpun saat kau menginginkannya jangan hanya diam berdeham pasrah. Aku akan menjadi pendengar untuk segala bentuk cerita maupun keluh kesah yang semakin membuncah. Bahuku masih cukup kuat untuk tempat berbagi resah gelisah. Walau kemampuanku merengkuh gaduh dipikiranmu tak seangkuh gelegar gemuruh.

Aku tercekat, nafasku memberat. Ada yang  menghantam pikiranku dengan hebat. Sahabat datang dan mendekat.  Aku rindu mengisi hari-hari dengan gelak tawa dan canda darimu.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.