Sudah lama kita tak saling sapa.
Rindukah kau berbagi tawa bersama?
Cerita apa lagi yang akan kau bagi?
Cobaku tebak, pasti
tentang seseorang yang sedang singgah dihati atau tentang kita yang selalu
berjalan beriringan setiap hari?
Sahabat, kau penyumat semangat
setiap saat.
Cerita-ceritaku mulai mengarat. Rasanya sudah berabad-abad
dibiarkan tak terawat. Aku tak sanggup lagi menyumbat mulut agar terus
mengatup. Memendam segala yang biasanyaku sisihkan sebagian untuk diperbincangkan.
Kapan kita dapat saling bertukar cerita? Menghilangkan penat atau saling
berpeluk erat. Waktu tak berpihak padaku saat ini, tak kunjung memberi
kesempatan untuk sekedar saling menatap walau
hanya sekejap. Tolong, untuk kali ini saja waktu. Aku membutuhkan dekap
terhangat dan genggaman terkuat. Sebab semangatku mulai meredup, pandanganku
semakin mengabut.
Jangan
kira rindu tak menghampiriku, saat jarak membuat kita tak dapat saling bertemu.
Dulu kita sempat seatap saat menuntut ilmu
sebelum akhirnya berpisah. Jarak dan cita-cita memang punya alasan yang tak
sanggup dibantah. Tak memperdulikan rindu yang semakin tumpah ruah ataupun
komunikasi yang semakin melemah. Hingga terkadang bunga tidur ikut berperan, mempertemukan
kita dengan cara yang tak terduga-duga,
ditempat yang indah.
Ini bukan akhir cerita yang sanggup kita ukir
bersama. Aku percaya pasti ada rencana sederhana yang diam-diam kau rajut dan
akupun punya mimpi yang inginku gapai, ku gantungkan setinggi langit. Agar kita
dapat merengkuhnya bersama-sama.
Aku
berdiri di sisi belakang, tak terekam pandang. Membaca gerak-gerik yang sedang
kau lakukan.
Kalaupun hadirku tak tampak secara nyata; kasat
mata. Ketahuilah sahabat, aku selalu berdiri dibelakangmu, bersiap-siap
mencerna segala macam sambat sebab gurat luka yang mungkin tiba-tiba ingin kau
muntahkan tepat dihadapanku. Karna kesedihan yang kau rasakan juga mengikis
sesak disudut hatiku. Air mata yang kau jatuhkan serupa pisau menyayat
jantungku.
Jangan
pernah menganggap kau sendiri, datang kemari lalu aku akan menemani. Mengisi
hari-hari.
Memendam sendirian bukan perkara yang mudah.
Aku tahu betul rasanya. Jadi, datang kesini kapanpun saat kau menginginkannya
jangan hanya diam berdeham pasrah. Aku akan menjadi pendengar untuk segala
bentuk cerita maupun keluh kesah yang semakin membuncah. Bahuku masih cukup
kuat untuk tempat berbagi resah gelisah. Walau kemampuanku merengkuh gaduh dipikiranmu
tak seangkuh gelegar gemuruh.
Aku tercekat,
nafasku memberat. Ada yang menghantam
pikiranku dengan hebat. Sahabat datang dan mendekat. Aku
rindu mengisi hari-hari dengan gelak tawa dan canda darimu.
Comments
Post a Comment