Skip to main content

Aku lelah, kau pantang menyerah.

Aku berjalan diantara kerumunan. Berusaha menghilang tanpa menyisakan jejak maunpun bayang-bayang. Sambil sesekali melirik kekiri dan kekanan. Apakah sosoknya sudah menghilang dari pandangan? Tanganku gemetar, mulutku bergelotakkan menahan ketakutan. Sebenarnya sosoknya tak seseram apa yang kau bayangkan. Hanya saja aku malas harus terus berhadapan menahan rasa kesal.

Harus berapa kali ku jelaskan kalau aku tak benar-benar menginginkan apa yang sedang kau tawarkan? Tunjukkan saja, yakinkankan aku selama kau bisa. Tapi aku tak akan menjanjikan apa-apa. Sebab kau tau sendiri aku baru tidak ingin menggenggam cinta yang melulu soal kata dan berujung luka. Waktuku begitu berharga, untuk sekedar mencicipi cinta yang akan padam dalam jangka waktu yang sanggup dihitung dentum jarum jam.

Kenapa kau tak kunjung menyerah? Kenapa kau masih tetap bertahan kalau aku jelas-jelas tak menginginkan kebersamaan?

Kalimatku begitu sederhana, sesulit itukah untuk kau cerna? Beberapa kejadian memang membuatku berubah seketika. Dengan pola pikir yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidakkah kau menyadarinya?  Lama-lama aku juga akan bungkam. Sampai akhirnya kau benar-benar sadar tentang apa yang telah kukatakan.

Sekeras-kerasnya hati wanita jika diperlakukan dengan tulus dan hormat akhirnya akan luluh juga.

Tak habis pikir apa yang sedang berkecamuk dikepalamu hingga tak ada kata lelah; pantang menyerah. Tidakkah kau sanggup menjamah yang jelas-jelas lebih mudah menyapamu dengan senyuman merekah? Walaupun sebenarnya kehadiranmu juga berperan mengisi kekosongan. Pesan-pesan singkat darimu teermasuk yang dapat membuat semangat kembali tersumat. Namun mengapa hatiku tak kunjung memantap? Hanya luluh satu perempat. Masih bergelut dengan berbagai pikiran; padat merayap.  Apa karna kau datang disaat waktu yang tidak tepat? Entahlah, Otakku terlampau penat.   

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.