Aku berjalan diantara kerumunan.
Berusaha menghilang tanpa menyisakan jejak maunpun bayang-bayang. Sambil
sesekali melirik kekiri dan kekanan. Apakah sosoknya sudah menghilang dari
pandangan? Tanganku gemetar, mulutku bergelotakkan menahan ketakutan.
Sebenarnya sosoknya tak seseram apa yang kau bayangkan. Hanya saja aku malas
harus terus berhadapan menahan rasa kesal.
Harus berapa kali ku jelaskan kalau
aku tak benar-benar menginginkan apa yang sedang kau tawarkan? Tunjukkan saja,
yakinkankan aku selama kau bisa. Tapi aku tak akan menjanjikan apa-apa. Sebab
kau tau sendiri aku baru tidak ingin menggenggam cinta yang melulu soal kata
dan berujung luka. Waktuku begitu berharga, untuk sekedar mencicipi cinta yang
akan padam dalam jangka waktu yang sanggup dihitung dentum jarum jam.
Kenapa kau tak kunjung menyerah? Kenapa kau masih tetap bertahan kalau
aku jelas-jelas tak menginginkan kebersamaan?
Kalimatku begitu sederhana, sesulit
itukah untuk kau cerna? Beberapa kejadian memang membuatku berubah seketika. Dengan
pola pikir yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidakkah kau menyadarinya? Lama-lama aku juga akan bungkam. Sampai akhirnya
kau benar-benar sadar tentang apa yang telah kukatakan.
Sekeras-kerasnya hati wanita jika diperlakukan dengan tulus dan hormat akhirnya akan luluh
juga.
Tak habis pikir apa yang sedang
berkecamuk dikepalamu hingga tak ada kata lelah; pantang menyerah. Tidakkah kau
sanggup menjamah yang jelas-jelas lebih mudah menyapamu dengan senyuman
merekah? Walaupun sebenarnya kehadiranmu juga berperan mengisi kekosongan.
Pesan-pesan singkat darimu teermasuk yang dapat membuat semangat kembali
tersumat. Namun mengapa hatiku tak kunjung memantap? Hanya luluh satu perempat.
Masih bergelut dengan berbagai pikiran; padat merayap. Apa karna kau datang disaat waktu yang tidak
tepat? Entahlah, Otakku terlampau penat.
jadi penulis novel aja sa hihi:)
ReplyDeleteiya kalau bisa Res :p
Delete