Skip to main content

Posts

Ibu

Serupa besi baja kau tak pernah hancur sekalipun dihantam beban yang tak henti meluncur. Hati sekokoh apa yang Tuhan berikan padamu, bu? Hingga tak ada alasan tuk terjatuh walau tubuh mulai merapuh. Kekuatan sebesar apa lagi yang tertanam mengakar dihati? sampai-sampai lelah tak mampu berdengus lemah. Lara dan derita seperti apa yang belum kau cicipi dalam perjuangan mempertahankan kebahagiaan keluarga kita. Sederas peluh pun tak sanggup membuatmu mengeluh. Ajarkan aku menjadi sosok wanita tangguh. Yang tetap tersenyum walau cobaan berusaha membuatku tersungkur, terjatuh. Wanita berhati mulia, bertutur kata bagai mutiara. Beribu kebahagiaan kau tenun tak mengenal waktu. Sejuta cinta kau berikan tanpa jeda. Menjaga sepenuh jiwa. Pemberi nasihat menuju bahagia. Walaupun sesekali kau memaksaku mencicipi teguran dan omelan disetiap hari-hari yang kujalani. Sepucuk harap menjuntai setinggi mentari pagi. Harap untuk bidadari kecil yang tumbuh dari rahim malaikat surgawi. Ber...

Sahabat, kau yang terhebat.

Sudah lama kita tak  saling sapa. Rindukah kau berbagi tawa bersama? Cerita apa lagi yang akan kau bagi? Cobaku tebak, pasti tentang seseorang yang sedang singgah dihati atau tentang kita yang selalu berjalan beriringan setiap hari? Sahabat, kau penyumat semangat setiap saat. Cerita-ceritaku mulai mengarat. Rasanya sudah berabad-abad dibiarkan tak terawat. Aku tak sanggup lagi menyumbat mulut agar terus mengatup. Memendam segala yang biasanyaku sisihkan sebagian untuk diperbincangkan. Kapan kita dapat saling bertukar cerita? Menghilangkan penat atau saling berpeluk erat. Waktu tak berpihak padaku saat ini, tak kunjung memberi kesempatan untuk sekedar saling menatap  walau hanya sekejap. Tolong, untuk kali ini saja waktu. Aku membutuhkan dekap terhangat dan genggaman terkuat. Sebab semangatku mulai meredup, pandanganku semakin mengabut. Jangan kira rindu tak menghampiriku, saat jarak membuat kita tak dapat saling bertemu. Dulu kita sempat seatap saat menun...

Aku lelah, kau pantang menyerah.

Aku berjalan diantara kerumunan. Berusaha menghilang tanpa menyisakan jejak maunpun bayang-bayang. Sambil sesekali melirik kekiri dan kekanan. Apakah sosoknya sudah menghilang dari pandangan? Tanganku gemetar, mulutku bergelotakkan menahan ketakutan. Sebenarnya sosoknya tak seseram apa yang kau bayangkan. Hanya saja aku malas harus terus berhadapan menahan rasa kesal. Harus berapa kali ku jelaskan kalau aku tak benar-benar menginginkan apa yang sedang kau tawarkan? Tunjukkan saja, yakinkankan aku selama kau bisa. Tapi aku tak akan menjanjikan apa-apa. Sebab kau tau sendiri aku baru tidak ingin menggenggam cinta yang melulu soal kata dan berujung luka. Waktuku begitu berharga, untuk sekedar mencicipi cinta yang akan padam dalam jangka waktu yang sanggup dihitung dentum jarum jam. Kenapa kau tak kunjung menyerah? Kenapa kau masih tetap bertahan kalau aku jelas-jelas tak menginginkan kebersamaan? Kalimatku begitu sederhana, sesulit itukah untuk kau cerna? Beberapa kejadian me...

Satu dan rindu

Bantu aku mencerna setiap pikiran yang tiba-tiba datang saat menatap mata yang dulu sempat menjadi permata dihidupku. Bantu aku menebak yang berdetak semakin kencang saat tubuhnya berdiri tepat disampingku. Bantu aku menahan rindu saat genggaman tangannya tak sengaja menghangatkan tanganku. Bantu aku melupakan kenangan yang datang beriringan dengan turunnya rintik-rintik air hujan, hari itu. Untuk pertama kalinya, aku tak sanggup menerka rasa yang tak kunjung menghilang. Padahal sosoknya sangat amat semu untuk dapat dipandang berulang-ulang. Sudah bertahun-tahun kita saling mengenal. Sudah terlampau banyak kenangan-kenangan yang kau tanamkan. Tak ada yang menghilang, masihku simpan. Tertata rapi dibirin-birin hati dan pikiran. Kali ini kau tak memiliki hak untuk melarang, biarkan aku menjaga yang masih terselip diantara kenangan beberapa tahun silam. Tak perlu kujelaskan panjang lebar, kau pasti paham. Kalau Tuhan sanggup membolak-balik...

Dalang

Tak ada satupun kata yang sanggup melukiskan dalamnnya kekecewaan yang pernah kurasakan. Tak ada satupun cara tuk hapuskan segala luka yang terlanjur kau sumatkan. Dimana bahagia yang dulu kau tawarkan? Dimana kesetiaan yang dulu slalu kau agung-agung kan? Kenapa hanya menyisihkan kesedihan jika ada bahagia yang terselip didalamnya? belum cukupkah luka yang kau jejalkan dengan paksa padaku? Kau tau bagaimana hati-hatinya aku menjaga setiap inci hatimu. Kau tau bagaimana usahaku untuk membuatmu percaya hingga hal-hal terkecil yang kadang tak terbesit dipikiranmu. Kau tau aku tak pernah bisa benar-benar marah padamu. Kau tau aku slalu suka membuat kejutan-kejutan kecil hanya untuk melihat seutas senyummu. Kau pasti tau…kau pasti merasakannya, aku tau itu. Sebab ketelusan selalu berperan didalamnya, mengiringin setiap langkahku, memperkuat pijakanku saat bersamamu, dulu. Aku lelah menjadi pemeran utama disetiap adegan yang kau tuliskan. Aku bukan wayang yang dapat dengan mudah ...

Cerita

Langit meremang. Aku duduk termenung berpangku tangan. Bintang sebagian menghilang, hanya terlihat satu dua yang bersinar terang. Apa langit ikut merasakan yang menganjal diantara degup jantung yang kian mengencang? Sebab penantian tak kunjung menemukan titik terang; keajaiban. Sudah hampir setahun aku menunggu pangeran pemberi kebahagiaan datang. Melengkapi tulang rusuk yang sempat menghilang. Berapa pelabuhan lagi yang harusku tinggalkan? Harus mengayuh berapa lautan lagi agar aku dapat menemukan? Aku sudah kelelahan, berusaha mati-matian mempertahankan sisa kekuatan, sendirian. Jangan bersembunyi terlalu jauh dari hati. Aku tak suka kau permaini. Kembali dan genapi hati yang telah mati terkubur janji-janji basi teringkari. Setelah itu perkenalkan aku dengan mentari maupun pelangi, sekali lagi. Pandanganku terlalu redup untuk menangkap sinarnya sendiri. Berlarilah kemari, aku akan menyambutmu sepenuh hati, tanpa pernah meninggalkanmu pergi. Bukan mengharapkan masa lalu, ...

Acak

Telapak tak berjejak Sosok pemilik detak Merangkak tergulung ombak. Tergeletak menepi retak. Jika Tuhan berkehendak Siapa yang sanggup mengelak? Sepucuk kata melapuk Janji terkutuk Mengingkar, Menjadi dosa yang menumpuk. Waktu kembali bisu. Risau berparas sendu Tak kunjung berlalu. Bait-bait doa saling berpadu Melantunkan ayat penenang kalbu. Serupa madu, Pemanis diantara pahit hidupku. Sembah sujud Tuhan-mu Tempat mengadu Pemberi janji bahagia tanpa pilu.