Bantu aku mencerna setiap pikiran yang tiba-tiba datang saat menatap
mata yang dulu sempat menjadi permata dihidupku.
Bantu aku menebak yang berdetak semakin kencang saat tubuhnya berdiri
tepat disampingku.
Bantu aku menahan rindu saat genggaman tangannya tak sengaja
menghangatkan tanganku.
Bantu aku melupakan kenangan yang datang beriringan dengan turunnya
rintik-rintik air hujan, hari itu.
Untuk pertama kalinya, aku tak sanggup menerka rasa yang tak kunjung
menghilang. Padahal sosoknya sangat amat semu untuk dapat dipandang
berulang-ulang.
Sudah bertahun-tahun kita saling
mengenal. Sudah terlampau banyak kenangan-kenangan yang kau tanamkan. Tak ada
yang menghilang, masihku simpan. Tertata rapi dibirin-birin hati dan pikiran. Kali
ini kau tak memiliki hak untuk melarang, biarkan aku menjaga yang masih
terselip diantara kenangan beberapa tahun silam. Tak perlu kujelaskan panjang
lebar, kau pasti paham.
Kalau Tuhan sanggup membolak-balik
perasaan. Tidak mungkin dipungkiri kalau rasa yang dulu hadir lagi. Walau tidak
mungkin untuk mengulangnya kembali. Iya kan? Jadi, jangan salahkan aku jika ada
rasa yang masih tertinggal. Ini semua diluar dugaan, bukan bagian dari rencana
yang kususun beberapa tahun lalu, bukan. Aku juga heran kenapa bayang-bayang
tentangmu terkadang masih menguasi pikiran. Siapa yang bisa menjelaskan? Kaupun
pasti tak habis pikir. Sebab aku juga tak menunjukkan apapun padamu,
sedikitpun. Apa lagi bertanya yang menyinggung soal rasa. Saat ini bukan waktu
yang tepat, atau mungkin memang bukan yang harus dipertanyakan dan diberi
jawaban.
Namamu masih terselip diantara doa. Saat aku mengadu pada-Nya.
Melihatmu tersenyum bahagia adalah bagian paling indah dihidupku. Menemukanmu terluka termasuk salah satu alasanku menitihkan air mata. Ijinkan aku menitipkan salam dan rinduku kepada Tuhan saat jarak pemisah mengusai peranannya, sebab hanya itu yang dapat kulakukan.
Aku harap ini hanya sebatas rindu menghabiskan waktu
bersamamu
Comments
Post a Comment