Skip to main content

Satu dan rindu

Bantu aku mencerna setiap pikiran yang tiba-tiba datang saat menatap mata yang dulu sempat menjadi permata dihidupku.

Bantu aku menebak yang berdetak semakin kencang saat tubuhnya berdiri tepat disampingku.

Bantu aku menahan rindu saat genggaman tangannya tak sengaja menghangatkan tanganku.

Bantu aku melupakan kenangan yang datang beriringan dengan turunnya rintik-rintik air hujan, hari itu.

Untuk pertama kalinya, aku tak sanggup menerka rasa yang tak kunjung menghilang. Padahal sosoknya sangat amat semu untuk dapat dipandang berulang-ulang.

Sudah bertahun-tahun kita saling mengenal. Sudah terlampau banyak kenangan-kenangan yang kau tanamkan. Tak ada yang menghilang, masihku simpan. Tertata rapi dibirin-birin hati dan pikiran. Kali ini kau tak memiliki hak untuk melarang, biarkan aku menjaga yang masih terselip diantara kenangan beberapa tahun silam. Tak perlu kujelaskan panjang lebar, kau pasti paham.

Kalau Tuhan sanggup membolak-balik perasaan. Tidak mungkin dipungkiri kalau rasa yang dulu hadir lagi. Walau tidak mungkin untuk mengulangnya kembali. Iya kan? Jadi, jangan salahkan aku jika ada rasa yang masih tertinggal. Ini semua diluar dugaan, bukan bagian dari rencana yang kususun beberapa tahun lalu, bukan. Aku juga heran kenapa bayang-bayang tentangmu terkadang masih menguasi pikiran. Siapa yang bisa menjelaskan? Kaupun pasti tak habis pikir. Sebab aku juga tak menunjukkan apapun padamu, sedikitpun. Apa lagi bertanya yang menyinggung soal rasa. Saat ini bukan waktu yang tepat, atau mungkin memang bukan yang harus dipertanyakan dan diberi jawaban.

Namamu masih terselip diantara doa. Saat aku mengadu pada-Nya. 

Melihatmu tersenyum bahagia adalah bagian paling indah dihidupku. Menemukanmu terluka termasuk salah satu alasanku menitihkan air mata. Ijinkan aku menitipkan salam dan rinduku kepada Tuhan saat jarak pemisah mengusai peranannya, sebab hanya itu yang dapat kulakukan. 

Aku harap ini hanya sebatas rindu menghabiskan waktu bersamamu

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.