Skip to main content

Cerita

Langit meremang. Aku duduk termenung berpangku tangan. Bintang sebagian menghilang, hanya terlihat satu dua yang bersinar terang. Apa langit ikut merasakan yang menganjal diantara degup jantung yang kian mengencang? Sebab penantian tak kunjung menemukan titik terang; keajaiban.

Sudah hampir setahun aku menunggu pangeran pemberi kebahagiaan datang. Melengkapi tulang rusuk yang sempat menghilang. Berapa pelabuhan lagi yang harusku tinggalkan? Harus mengayuh berapa lautan lagi agar aku dapat menemukan? Aku sudah kelelahan, berusaha mati-matian mempertahankan sisa kekuatan, sendirian.

Jangan bersembunyi terlalu jauh dari hati. Aku tak suka kau permaini. Kembali dan genapi hati yang telah mati terkubur janji-janji basi teringkari. Setelah itu perkenalkan aku dengan mentari maupun pelangi, sekali lagi. Pandanganku terlalu redup untuk menangkap sinarnya sendiri. Berlarilah kemari, aku akan menyambutmu sepenuh hati, tanpa pernah meninggalkanmu pergi.

Bukan mengharapkan masa lalu, karna aku bukan yang dulu.

Sudah cukup luka yang ditorehkan masa lalu disekujur rongga dada, dulu. Pilu yang kadung membiru tak akan pernah hilang termakan zaman. Akan selalu meradang bersama kenangan. Akan selalu membekas menghujam serupa perkakas. Hingga air mata menjadi yang terkuat. Selalu setia mengiringi, setiap derap langkah mulai melemah

Jam berjalan, aku masih termenung berpangku tangan.

Sudah beberapa kali aku meyeduh secangkir rindu. Menunggu seperti orang bingung, linglung. Siapa yang akan meneguk, menikmati setiap tetes rindunya? Aku harap pangeran tampan bersurban, menggenggam Al-Quran ditangan kanan. Seseorang yang sanggup menjadi imam menjelang azan berkumandang. Menuntun dan mengajariku lebih dalam tentang kesempurnaan Islam. Sebab saat ini rinduku tak bertuan, selalu berujung pada Tuhan disepertiga malam.

050413. Percayalah Tuhan pemberi cinta abadi. Yang saling melengkapi, menghargai dan mencintai tanpa perlu melukai hati :)

Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...