Langit meremang. Aku duduk termenung
berpangku tangan. Bintang sebagian menghilang, hanya terlihat satu dua yang
bersinar terang. Apa langit ikut merasakan yang menganjal diantara degup jantung
yang kian mengencang? Sebab penantian tak kunjung menemukan titik terang;
keajaiban.
Sudah hampir setahun aku menunggu
pangeran pemberi kebahagiaan datang. Melengkapi tulang rusuk yang sempat
menghilang. Berapa pelabuhan lagi yang harusku tinggalkan? Harus mengayuh
berapa lautan lagi agar aku dapat menemukan? Aku sudah kelelahan, berusaha
mati-matian mempertahankan sisa kekuatan, sendirian.
Jangan bersembunyi terlalu jauh dari
hati. Aku tak suka kau permaini. Kembali dan genapi hati yang telah mati
terkubur janji-janji basi teringkari. Setelah itu perkenalkan aku dengan
mentari maupun pelangi, sekali lagi. Pandanganku terlalu redup untuk menangkap
sinarnya sendiri. Berlarilah kemari, aku akan menyambutmu sepenuh hati, tanpa
pernah meninggalkanmu pergi.
Bukan mengharapkan masa lalu, karna aku bukan yang dulu.
Sudah cukup luka yang ditorehkan
masa lalu disekujur rongga dada, dulu. Pilu yang kadung membiru tak akan pernah
hilang termakan zaman. Akan selalu meradang bersama kenangan. Akan selalu
membekas menghujam serupa perkakas. Hingga air mata menjadi yang terkuat. Selalu
setia mengiringi, setiap derap langkah mulai melemah
Jam berjalan, aku masih termenung berpangku tangan.
Sudah beberapa kali aku meyeduh
secangkir rindu. Menunggu seperti orang bingung, linglung. Siapa yang akan
meneguk, menikmati setiap tetes rindunya? Aku harap pangeran tampan bersurban,
menggenggam Al-Quran ditangan kanan. Seseorang yang sanggup menjadi imam
menjelang azan berkumandang. Menuntun dan mengajariku lebih dalam tentang kesempurnaan Islam. Sebab saat ini rinduku tak bertuan, selalu berujung pada Tuhan
disepertiga malam.
050413. Percayalah Tuhan pemberi cinta
abadi. Yang saling melengkapi, menghargai dan mencintai tanpa perlu melukai
hati :)
Comments
Post a Comment