Skip to main content

Posts

Andai usia tidak membatasi cinta.

Kamu menarik, membuatku tertarik. Sosok yang tidak sengaja kutemui diluar rencana , sanggup menyita beberapa waktu ku hanya untuk memandanginya. K ita saling mengunci pandang dalam jarak yang cukup panjang.  Singkat  namun memikat. Ada rasa yang menjalar kesudut dada, bergetar membuat degup jantung tak beraturan. Aku tak sanggup membaca apa yang terlitas dikerlingan matanya. Terlalu takut untuk saling bertukar pandang dengan waktu yang lama. Kita tak saling berkenalan apa lagi berbicara. Seperti biasa, aku tetap bergelut dengan kesibukanku tanpa bertanya itu siapa, ataupun kembali mencuri-curi pandang melihatnya.  Aku juga tak mengetahui apa yang sedang dia lakukan, walau kita ditempat yang sama, hanya terhalang pintu pembatas yang terbuka. Sebenarnya ada rasa yang memaksaku untuk bertanya,  tapi disisi lain seperti ada yang membisikaan untuk tetap diam tak bersuara. Sapaan darimu seperti semangat baru untukku. Aku tak menyangka, pada akhirnya k...

Tuhan selalu hadir disetiap penantian.

Sendiri. Memilih sendiri bukan berarti tak ada yang menemani. Hanya harus pandai-pandai bersahabat dengan sunyi dan sepi. Lebih jeli memahami diri sendiri dan harus ahli menempatkan diri disetiap posisi. Mungkin sulit terlalu rumit untuk dimengerti tapi akan terbiasa jika dilakukan berulang kali, setiap hari. Sudah terlalu lihai untuk sekedar menyembunyikan air mata diantara deretan tawa. Memelihara bahagia dengan sisa kekuatan yang ada ataupun meredakan lara  sebab yang bernama cinta. Sebenarnya aku tidak sendiri sebab Tuhan akan selalu menemani . Mungkin tuhan sengaja memperkenalkanku dengan luka. Agar aku lebih erat memeluknya dalam doa. Menyelipkan nama-Nya setiap kali berkata. Mengikutsertakan Tuhan dalam segala rencana.  Sebab siapa lagi yang kutuju kalau bukan Tuhan yang memiliki segala kesempurnaan? Saat ini aku sedang muak dengan berbagai bentuk janji-janji yang disuguhkan manusia. Mempercayai kata-kata yang hanya berujung luka. Aku lelah bertema...

Satu berpadu rindu

Saat pertama menjadi segalanya. Saat kenangan dipertahankan untuk tidak dilupakan. Satu. Kamu & rindu. Kalimat yang akan selalu bersanding lues dihidupku. Sejak awal kita bertemu, beberapa tahun yang lalu. Kamu, dengan sikap konyol dan segudang lelucon yang lucu. Saat itu kita juga masih sama-sama lugu. Mengeja rindu dengan cara berbeda setiap kali kita bertemu, dulu. Rindu beradu diantara deru nafasku, menghimpit aturan hirup yang mulai meninggi. Kenangan beberapa tahun yang lalu t iba-tiba masuk menusuk-nusuk rusuk yang sempat remuk sebab terlalu mencintai. Menggenapi yang belum terisi. Mem aksaku kembali menyentuh memori yang sempat mati.  Ada yang menahan memaksa tetap bertahan. . Sudah terlampau lama kita tak saling menguatkan. Jarak selalu punya peran dalam hal memisahkan. Bergulat dengan keadaan, berharap kau datang dan jangan kembali menghilang. Sebab namamu sudah terlanjur menetap dan mendapat tempat paling dalam. Heran. Mengapa selalu sosokm...

Katakan!

Mau berapa banyak lagi sayatan yang kau berikan? Mau sedalam apa lagi luka yang kau torehkan? Mau menjadikan serpihan sekecil apa lagi hatiku ini? Katakan! Katakan semua yang kau inginkan. Selagi aku bertanya, selagi aku sanggup mendengar semua jawaban yang akan kau lontarkan. Sebab aku tak akan mengulang pertanyaan yang sama kalau kau tetap bersi keras untuk tidak mengutarakannya sekarang. Kenyataan memang berbanding lurus dengan kejujuran selalu saja berujung menyakitkan. Terkadang sebongkah kebohongan yang dibalut dengan indah lebih menjanjikan kebahagiaan. Siapa yang tidak tergoyah untuk menjamah yang terlihat jauh lebih mudah tertangkap mata tanpa perlu menempuh proses terbiasa dengan luka atapun lara? Apa ini bagian dari rencana memperkuat yang terpanah lemah?  hingga serupa besi baja yang tak hancur sekalipun dihantam dari segalah arah. Amarah selalu lengah mempererat yang hampir terpisah. Lelah  bersanding gundah tidak mungkin kan hanya seseorang yang...

Kita sama-sama terluka. Apa bisa merajut bahagia?

Kita serupa, sama-sama masih menyimpan luka. Namun tanpa disadari kita saling menyelipkan bahagia. Walau dilain sisi  kita juga tidak menginginkan cinta yang mulai tersumat didalamnya. Mencegah dengan berbagai cara. Mengelak dengan berbagai kata. Tapi apa daya. Terkadang perasaan menjadi raja mengalahkan logika. Hingga pada akhirnya kita mengakuinya, ada yang bergetar menjalar disudut hati apa lagi kalau bukan cinta. Kau menjadikanku pilihan, saat aku menjadikanmu keutamaan. Lakukan saja semua yang kau ingin kan, apa saja. Menjadikanmu keutamaan bukan salah satu penyesalan. Sudah beruluang kali aku tegaskan. Aku tak membutuhkan alasan ataupun balasan karna ketulusan yang sedang berperan. kau yang seharusnya berpikir ulang untuk menjadikanku pilihan. Sebab siapa lagi yang menjadi sandaran jika keterpurukan menyerang? kalau bukan aku yang datang. Mual. Ingin memuntahkan semua yang menganjal. Harus mencerna berapa banyak la gi isyarat yang kau berikan? Hingga satupun ta...

Penantian

Penantian dalam kesepian Menepis tangis dalam kesunyian. Harapan yang dulu kita impikan Kini hilang tertelan jaman. Dimana bahagia yang kau janjikan? Dimana kesetiaan yang dulu slalu kau banggakan? Saat ini semua hanya angan Angan yang menyelimutiku dalam kegelapan. Aku rindu menjadi dambaan. Dengan sejuta pujian yang selalu kau lontarkan. Aku letih memelihara kebohongan Menutupi hati yang kini remuk redam. Mungkin memang ini yang kau inginkan, Mamatikanku dengan cara perlahan.

Kau yangku tunggu telah mendapatkan kebahagiaan baru.

Ingin mengucapkan beribu kata selamat untukmu. Menjejalkan berjuta doa agar kau bahagia dengan wanita itu, wanita yang saat ini sedang besanding denganmu. Wanita yang akan selalu mengisi hari-harimu, mengembangkan senyuman manis yang kupelihara dulu. Menangkap tatapan sayu yang slalu dapat menyejukkan relung hatiku, itu yang paling kurindu. Semuanya terlihat indah saat kita bersama dulu. Saat semua belum berakhir seperti ini. Mungkin aku memang bukan yang terbaik walaupun sudah mencoba berulang kali. Mungkin memang dia yang kau nanti untuk menggantikan posisiku dihati. Lalu apa gunanya aku menanti? Berharap semua bersemi kembali, seperti janji yang kauucapkan tempo lalu sebelum menginggalkanku pergi.  Sebab sedihmu adalah tangisku dan senyummmu adalah bagian dari bahagiaku Tujuanku slama bersamamu hanya ingin melihat kau tersenyum bahagia. Menutup  luka yang ditorehkan masa lalumu hingga membuatnya pulih seperti sedia kala.  Setelah itu? aku hanya ingin...