Skip to main content

Satu berpadu rindu


Saat pertama menjadi segalanya. Saat kenangan dipertahankan untuk tidak dilupakan.

Satu. Kamu & rindu.

Kalimat yang akan selalu bersanding lues dihidupku. Sejak awal kita bertemu, beberapa tahun yang lalu. Kamu, dengan sikap konyol dan segudang lelucon yang lucu. Saat itu kita juga masih sama-sama lugu. Mengeja rindu dengan cara berbeda setiap kali kita bertemu, dulu.

Rindu beradu diantara deru nafasku, menghimpit aturan hirup yang mulai meninggi. Kenangan beberapa tahun yang lalu tiba-tiba masuk menusuk-nusuk rusuk yang sempat remuk sebab terlalu mencintai. Menggenapi yang belum terisi. Memaksaku kembali menyentuh memori yang sempat mati. 

Ada yang menahan memaksa tetap bertahan.. Sudah terlampau lama kita tak saling menguatkan. Jarak selalu punya peran dalam hal memisahkan. Bergulat dengan keadaan, berharap kau datang dan jangan kembali menghilang. Sebab namamu sudah terlanjur menetap dan mendapat tempat paling dalam.

Heran. Mengapa selalu sosokmu yang datang memenuhi pikiran? Padahal sudah berulang kali ada yang menggantikan. Apa karna hanya kamu yang sanggup membuatku nyaman? Atau mungkin ini termasuk rencana Tuhan agar aku tak berhenti untuk tetap merindukan dan memperjuangkan? Entahlan aku juga tak paham.  

Beberapa waktu lalu kita sempat bertemu. Setelah beberapa tahun hanya saling memandang dalam gambar-gambar semu. Berkomunikasi hanya dengan pesan singkat yang slaluku tunggu. Tapi Itu sudah cukup mengobati rasa rinduku, apa kau tahu itu? Sekalipun  aku hanya diam membisu. Memendamnya sendiri tanpa mengatakannya padamu sebab aku malu. Semoga saja kau tahu itu.

Untuk lelaki berjahit didahi dari cinta pertamamu.


Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...