Skip to main content

Posts

Satu dan rindu

Bantu aku mencerna setiap pikiran yang tiba-tiba datang saat menatap mata yang dulu sempat menjadi permata dihidupku. Bantu aku menebak yang berdetak semakin kencang saat tubuhnya berdiri tepat disampingku. Bantu aku menahan rindu saat genggaman tangannya tak sengaja menghangatkan tanganku. Bantu aku melupakan kenangan yang datang beriringan dengan turunnya rintik-rintik air hujan, hari itu. Untuk pertama kalinya, aku tak sanggup menerka rasa yang tak kunjung menghilang. Padahal sosoknya sangat amat semu untuk dapat dipandang berulang-ulang. Sudah bertahun-tahun kita saling mengenal. Sudah terlampau banyak kenangan-kenangan yang kau tanamkan. Tak ada yang menghilang, masihku simpan. Tertata rapi dibirin-birin hati dan pikiran. Kali ini kau tak memiliki hak untuk melarang, biarkan aku menjaga yang masih terselip diantara kenangan beberapa tahun silam. Tak perlu kujelaskan panjang lebar, kau pasti paham. Kalau Tuhan sanggup membolak-balik...

Dalang

Tak ada satupun kata yang sanggup melukiskan dalamnnya kekecewaan yang pernah kurasakan. Tak ada satupun cara tuk hapuskan segala luka yang terlanjur kau sumatkan. Dimana bahagia yang dulu kau tawarkan? Dimana kesetiaan yang dulu slalu kau agung-agung kan? Kenapa hanya menyisihkan kesedihan jika ada bahagia yang terselip didalamnya? belum cukupkah luka yang kau jejalkan dengan paksa padaku? Kau tau bagaimana hati-hatinya aku menjaga setiap inci hatimu. Kau tau bagaimana usahaku untuk membuatmu percaya hingga hal-hal terkecil yang kadang tak terbesit dipikiranmu. Kau tau aku tak pernah bisa benar-benar marah padamu. Kau tau aku slalu suka membuat kejutan-kejutan kecil hanya untuk melihat seutas senyummu. Kau pasti tau…kau pasti merasakannya, aku tau itu. Sebab ketelusan selalu berperan didalamnya, mengiringin setiap langkahku, memperkuat pijakanku saat bersamamu, dulu. Aku lelah menjadi pemeran utama disetiap adegan yang kau tuliskan. Aku bukan wayang yang dapat dengan mudah ...

Cerita

Langit meremang. Aku duduk termenung berpangku tangan. Bintang sebagian menghilang, hanya terlihat satu dua yang bersinar terang. Apa langit ikut merasakan yang menganjal diantara degup jantung yang kian mengencang? Sebab penantian tak kunjung menemukan titik terang; keajaiban. Sudah hampir setahun aku menunggu pangeran pemberi kebahagiaan datang. Melengkapi tulang rusuk yang sempat menghilang. Berapa pelabuhan lagi yang harusku tinggalkan? Harus mengayuh berapa lautan lagi agar aku dapat menemukan? Aku sudah kelelahan, berusaha mati-matian mempertahankan sisa kekuatan, sendirian. Jangan bersembunyi terlalu jauh dari hati. Aku tak suka kau permaini. Kembali dan genapi hati yang telah mati terkubur janji-janji basi teringkari. Setelah itu perkenalkan aku dengan mentari maupun pelangi, sekali lagi. Pandanganku terlalu redup untuk menangkap sinarnya sendiri. Berlarilah kemari, aku akan menyambutmu sepenuh hati, tanpa pernah meninggalkanmu pergi. Bukan mengharapkan masa lalu, ...

Acak

Telapak tak berjejak Sosok pemilik detak Merangkak tergulung ombak. Tergeletak menepi retak. Jika Tuhan berkehendak Siapa yang sanggup mengelak? Sepucuk kata melapuk Janji terkutuk Mengingkar, Menjadi dosa yang menumpuk. Waktu kembali bisu. Risau berparas sendu Tak kunjung berlalu. Bait-bait doa saling berpadu Melantunkan ayat penenang kalbu. Serupa madu, Pemanis diantara pahit hidupku. Sembah sujud Tuhan-mu Tempat mengadu Pemberi janji bahagia tanpa pilu.

Diamku menyembunyikan rahasia soal rasa

Kata terikat tak sanggup terucap saat mata saling menatap. Hanya terdengar helaian nafas melirih terhempas angin melepas sesak ditepian dada. Tak ada keberanian mengungkap yang mendesak disekitar indra perasa. Bergejolak mengelak segala yang tumbuh semakin nyata. Sebab tak ada yang sanggup menerka, menebak rasa akan jatuh pada siapa. Serupa aku, yang tiba-tiba melihatmu dengan cara berbeda.  Tak lagi sama seperti pertama kita berjumpa. Kamu terlalu maya hingga semu tak lagi sanggup menangkap senyummu. Setiap senja ditempat yang sama, aku menunggu tawa pemecah resah. Meringkuk diantara pelupuk kabut. Mengintip dibalik birin-birin kemelut. Mengerut  bersibah kalut. Andai mulut sanggup melumat semua yang bertemakan dirimu. Mungkin aku tak usah repot-repot mencari sosok pengobat pilu. Saat sendu mengaduh semakin riuh. Sebab aku butuh tempat berlabuh. Bisakah bersinggah sejenak dibahu kokoh milikmu hingga rapuh jenuh untuk meluruh? Saat jarak pemisah bermain peran....

Kebahagiaan Bersama Tuhan.

Malam penuh ketenangan Bermandikan cahaya rembulan Bertabur bintang memancarkan sinar keabadian Diantara kegelapan, Aku melantunkan doa-doa atas nama Tuhan. Kepedihan tak kunjung menghilang Selalu datang bergantian. Dimana kebahagiaan yang selalu dijanji-janjikan? Aku menanti masih dengan doa yang selalu berperan. Angin dingin menyejukkan Berhembus membuncahkan lamunan Seperti ingin menyadarkan Menyampaikan pesan atas segala pertanyaan Soal keraguaan atas rencana Tuhan. Seperti ditampar, aku tersadar dari mimpi panjang Saat doa selalu dilafalkan Saat kau selalu melibatkan Tuhan Bahagia memainkan peranan, Tak akan menghilang dari pangkuan. Sebab kebahagiaan yang takkan pernah tergantikan, Adalah kebahagiaan bersama Tuhan.

Basket memang selalu memikat

Sore itu detak jantungku berderap seiraman pantulan bola yang sedang kau kuasai. Terik matahari menyongsong sinar jatuh tepat dilapangan tempat pertandingan.  Diantara pemain lain kau yang paling menyita perhatian. Mataku seperti enggan berpaling, tidak ingin melewatkan sedetik  pun saat kau sedang bermain. Seperti ada magnet yang menahan, membuatku tetap bertahan memandang dengan berjuta harapan yang sedang berotasi dipikiran. Sebenarnya sudah berberapa kali berada dalam situasi seperti ini namun sesering itu juga aku menangkis yang tiba-tiba menyusup diantara degup jantungku, bergelut antara pikiran dan perasaan. Setiap latihan, setiap pertandingan sebenarnya ada seseorang yang menerawang dari kejauhan. Membaca gerak-gerik permainanmu dilapangan. Badan tinggi semampai serupa ring basket yang tinggi menjuntai.  Detak jantungku memburu, berderu saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Peluh berjatuh meluruh, telukis jelas lelah mulai menjamah tubuhmu...