Kata terikat tak sanggup terucap
saat mata saling menatap. Hanya terdengar helaian nafas melirih terhempas angin
melepas sesak ditepian dada. Tak ada keberanian mengungkap yang mendesak
disekitar indra perasa. Bergejolak mengelak segala yang tumbuh semakin nyata.
Sebab tak ada yang sanggup menerka, menebak rasa akan jatuh pada siapa. Serupa aku,
yang tiba-tiba melihatmu dengan cara berbeda. Tak lagi sama seperti pertama kita berjumpa.
Kamu terlalu maya hingga semu tak lagi sanggup menangkap senyummu.
Setiap senja ditempat yang sama, aku
menunggu tawa pemecah resah. Meringkuk diantara pelupuk kabut. Mengintip
dibalik birin-birin kemelut. Mengerut bersibah
kalut. Andai mulut sanggup melumat semua yang bertemakan dirimu. Mungkin aku
tak usah repot-repot mencari sosok pengobat pilu. Saat sendu mengaduh semakin
riuh. Sebab aku butuh tempat berlabuh. Bisakah bersinggah sejenak dibahu kokoh
milikmu hingga rapuh jenuh untuk meluruh?
Saat jarak pemisah bermain peran. Sajak tentangmu tak akan berhenti
kutuliskan.
Tak ada kata yang sanggup
menggambarkan perpisahan. Dengan perasaan yang masih bergelantung bersama
mendungnya malam. Meremang bersama hujan. Antarkan aku menuju titik temu
perasaanmu. Menengok yang sedang berbisik menggerutu rindu. Agar
resah tak lagi merekah. Mendesah pasrah soal rasa yang tak kunjung terjamah.
Lewat secarik kertas aku berbicara
tanpa suara. Menggemakan nama yang tak kunjung terkuak nyata. Lewat tulisan aku
mengungkap yang menguap diantara kepingan luka. Berharap kau datang menyapa, layaknya
alunan petikan gitar dengan nada bertemakan cinta pelipur lara. Selalu berujung
bahagia.
280413-22.13 Selamat malam. Semoga
sinar pantulan bulan menyampaikan pesan salam perpisahan, sebelum sosokmu
hilang dari pandangan.
Comments
Post a Comment