Skip to main content

Diamku menyembunyikan rahasia soal rasa


Kata terikat tak sanggup terucap saat mata saling menatap. Hanya terdengar helaian nafas melirih terhempas angin melepas sesak ditepian dada. Tak ada keberanian mengungkap yang mendesak disekitar indra perasa. Bergejolak mengelak segala yang tumbuh semakin nyata. Sebab tak ada yang sanggup menerka, menebak rasa akan jatuh pada siapa. Serupa aku, yang tiba-tiba melihatmu dengan cara berbeda.  Tak lagi sama seperti pertama kita berjumpa.

Kamu terlalu maya hingga semu tak lagi sanggup menangkap senyummu.

Setiap senja ditempat yang sama, aku menunggu tawa pemecah resah. Meringkuk diantara pelupuk kabut. Mengintip dibalik birin-birin kemelut. Mengerut  bersibah kalut. Andai mulut sanggup melumat semua yang bertemakan dirimu. Mungkin aku tak usah repot-repot mencari sosok pengobat pilu. Saat sendu mengaduh semakin riuh. Sebab aku butuh tempat berlabuh. Bisakah bersinggah sejenak dibahu kokoh milikmu hingga rapuh jenuh untuk meluruh?

Saat jarak pemisah bermain peran. Sajak tentangmu tak akan berhenti kutuliskan.

Tak ada kata yang sanggup menggambarkan perpisahan. Dengan perasaan yang masih bergelantung bersama mendungnya malam. Meremang bersama hujan. Antarkan aku menuju titik temu perasaanmu.  Menengok  yang sedang berbisik menggerutu rindu. Agar resah tak lagi merekah. Mendesah pasrah soal rasa yang tak kunjung terjamah.

Lewat secarik kertas aku berbicara tanpa suara. Menggemakan nama yang tak kunjung terkuak nyata. Lewat tulisan aku mengungkap yang menguap diantara kepingan luka. Berharap kau datang menyapa, layaknya alunan petikan gitar dengan nada bertemakan cinta pelipur lara. Selalu berujung bahagia.

280413-22.13 Selamat malam. Semoga sinar pantulan bulan menyampaikan pesan salam perpisahan, sebelum sosokmu hilang dari pandangan.


Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...