Sore itu detak jantungku berderap
seiraman pantulan bola yang sedang kau kuasai.
Terik matahari
menyongsong sinar jatuh tepat dilapangan tempat pertandingan. Diantara pemain lain kau yang paling menyita
perhatian. Mataku seperti enggan berpaling, tidak ingin melewatkan sedetik pun saat kau sedang bermain. Seperti ada
magnet yang menahan, membuatku tetap bertahan memandang dengan berjuta harapan yang
sedang berotasi dipikiran. Sebenarnya sudah berberapa kali berada dalam situasi
seperti ini namun sesering itu juga aku menangkis yang tiba-tiba menyusup diantara
degup jantungku, bergelut antara pikiran dan perasaan.
Setiap latihan,
setiap pertandingan sebenarnya ada seseorang yang menerawang dari kejauhan. Membaca
gerak-gerik permainanmu dilapangan.
Badan tinggi semampai serupa ring basket yang tinggi
menjuntai.
Detak jantungku memburu,
berderu saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Peluh berjatuh meluruh,
telukis jelas lelah mulai menjamah tubuhmu. Namun seperti biasa tidak ada
satupun alasan untuk menjatuhkan dan menyurutkan semangat bermainmu, aku tau
itu.
Kita tidak
pernah bertukar cerita. Hanya berbicara seadanya. Membicarakan hal-hal tentang basket
tentunya, itupun saat pertandingan saat kau mengantikan pelatih untuk menjelaskan
beberapa hal dan posisi yang harus aku lakukan. Selain itu?
Mungkin sikap cuek
sanggup menutupi yang sebenarnya tampak nyata. Mungkin berbicara seadaanya
membuatmu tidak mengetahui sebenarnya aku ada. Lagi-lagi aku yang terlalu lihai
memendam dan menutupi yang jelas-jelas dapat tumbuh dengan mudahnya.
Comments
Post a Comment