Mentari,
apakah sinarmu menghangatkan dunianya? Embun, apakah butir bulirmu menyejukkan
tempatnya? Bulan, tetaplah bercahya diantara gelapnya malam, jangan skalipun
meredup sebab aku tak ingin meninggalkannya dalam kegelapan akhir kehidupan.
Melihat setumpuk
tanah menutupi tubuhnya, mendengarkan ayah mengumandangkan azan diatas batu
nisan. Air mataku pecah, tangisku membuncah. Apa yang bisa dilakukan anak
berumur delapan tahun saat kehilangan satu-satunya eyang yang paling
disayanginya? Selain menghasilkan berlusin-lusin air mata, apa? Seperti anak
kecil yang dirampas bonekanya, diambil paksa mainan kesukaannya. Ditambah lagi
saat terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawanya, aku yang selalu brada diranjang
bersamanya, meminta agar aku yang merawat; mengganti perban dan obat dikakinya
yang terluka, mendengerngar cerita-cerita dimimpinnya. Kita dekat sekali, ya
Nek :”)
Tak
ada hentinya aku berdoa. Semoga Tuhan menempatkan kesempurnaan bahagia padanya,
surga.
Nek, apa
doaku dikabulkan Tuhan? Bagaimana rasanya disana? Aku harap dimanapun kau
berada, bahagia akan selalu menyapa. Mengiringi setiap langkahmu pergi. Karna
kali ini aku tak dapat menemani jika kau merasa sendiri. Tak dapat lagi merawat
saat sakit tiba-tiba datang menghampiri.
Nek apa
Tuhan juga memberikan cucu sepertiku disana?
Andai kau
dapat melihatku dari singgah surga sana. Cucu kecilmu kini sudah beranjak
menjadi wanita dewasa. Bukan yang takut menonton timun mas senirian. Bukan yang
harus berlompat-lompat kecil saat menaiki ranjang, bukan. Karna saat ini aku
memiliki wawasan dan juga keahlian yang sebagian kau turunkan. Bayangkan saja
kita bisa mendesain baju bersama, menyiram tanaman saat senja, memetik buah
dipohon mangga, menyajikan masakan kreasi kita berdua. Ah, khayalan apa
lagi yangku buat.
Nek, aku
menampung sejuta cerita hanya untuk kubagi padamu. Tentang seni yang memikat
hati, basket yang slalu dapat melepas penat, tulisan-tulisan yang setia
menemani sepiku. Seperti tulisan yang kubuat saat ini, tulisan yang mengungkap
rinduku padamu.
Rindu,
khayalan dan mimpi. Biarkan kata-kata itu kusimpan dengan rapi. Tiga kata yang
dapat mengembalikan kenangan masa kecilku bersamamu. Dan saat ini…sudah belasan
tahun, waktu terasa cepat berlalu. Tapi ada satu yang tak berubah dariku, slalu
menangis saat mengingatmu.
Untuk Alm nenek dari cucu yang tak
henti-hentinya merindukanmu ♥
Comments
Post a Comment