Rasanya ingin pergi mengarungi bumi. Mencari
serpihan yang hilang, yang belum kutemui sampai saat ini. Padahal tinggal satu
sisi lagi yang belum tergenapi; hati.
Jangan pernah datang kalau akhirnya hanya akan pergi meninggalkan kenang. Aku tak tertarik lagi menimbun
kenangan. Sudah penuh berserakan digudang, tak akan ku genggam ulang, memilukan.
Terkadang aku lelah menjadi pahlawan dalam resahku sendirian. Lebih baik kau
datang dan bantu aku mengakhiri segala gelisah langkahku menuju masa depan. Memecahkan
sepiku menjadi lingkar senyuman.
Kalaupun kau datang dengan kesetiaan
iman. Aku akan menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Kesungguhan, ketulusan itu
juga, kan? Sebab tak ada yang lebih menarik dari seorang pria yang beriman.
Bersanding mengisi rongga rusuknya yang hilang.
Aku hanya wanita biasa. Berpenampilan
sederhana, apa adanya. Masih jauh dari kata sempurna, dengan segala kekurangan
yang ada. Apa kau sanggup melengkapinya? Apa kau bisa menerima seluruhnya? Ini memang
bukan perkara yang mudah. Namun dengan ketulusan hati yang ku punya, bisakah
kau menimbang-nimbang ulang sebelumnya? Tenang saja, aku bukan yang mudah marah,
bukan juga yang sanggup menyimpan kesal terlalu lama.
Memang aku sok angkuh. Berdiri menyongsong fajar hingga senja
sendirian, padahal kalau kau intip sedikit lagi kedasar hati, sudah retak
merapuh. Ah, tapi anggap saja aku ini tangguh. Sebab Tuhan mengitari hatiku
dengan dinding baja, yang akan tetap utuh walau beribu panah menghantam separuh
tubuh.
Comments
Post a Comment