Skip to main content

Kemari, lalu lengkapi.



Rasanya ingin pergi mengarungi bumi. Mencari serpihan yang hilang, yang belum kutemui sampai saat ini. Padahal tinggal satu sisi lagi yang belum tergenapi; hati.

Jangan pernah datang kalau akhirnya hanya akan pergi meninggalkan kenang. Aku tak tertarik lagi menimbun kenangan. Sudah penuh berserakan digudang, tak akan ku genggam ulang, memilukan. Terkadang aku lelah menjadi pahlawan dalam resahku sendirian. Lebih baik kau datang dan bantu aku mengakhiri segala gelisah langkahku menuju masa depan. Memecahkan sepiku menjadi lingkar senyuman.  

Kalaupun kau datang dengan kesetiaan iman. Aku akan menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Kesungguhan, ketulusan itu juga, kan? Sebab tak ada yang lebih menarik dari seorang pria yang beriman. Bersanding mengisi rongga rusuknya yang hilang.

Aku hanya wanita biasa. Berpenampilan sederhana, apa adanya. Masih jauh dari kata sempurna, dengan segala kekurangan yang ada. Apa kau sanggup melengkapinya? Apa kau bisa menerima seluruhnya? Ini memang bukan perkara yang mudah. Namun dengan ketulusan hati yang ku punya, bisakah kau menimbang-nimbang ulang sebelumnya? Tenang saja, aku bukan yang mudah marah, bukan juga yang sanggup menyimpan kesal terlalu lama.  

Memang aku sok angkuh. Berdiri menyongsong fajar hingga senja sendirian, padahal kalau kau intip sedikit lagi kedasar hati, sudah retak merapuh. Ah, tapi anggap saja aku ini tangguh. Sebab Tuhan mengitari hatiku dengan dinding baja, yang akan tetap utuh walau beribu panah menghantam separuh tubuh.
      

Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...