Angin menggembala membawa hawa
dingin pelipur lara. Jarum jam berlari-lari kecil menuju symbol berangka dua. Sepi…hanya
terdengar suara gesekan daun dengan aspal, suara jangkrik bersautan dan
kerumunan kunang-kunang yang terlihat paling bercahya. Sudah tengah malam ternyata. Beberapa hari ini aku terjaga dibawah
sinar bulan duduk menghadap jendela. Lagu berlunan cinta menggema mengisi
ruang-ruang kosong diudara. Ini cangkir ketiga, kopi berwarna hitam pekat
dengan roti isi disampingnya.
Perasaanku gusar, nafasku meliar tak
beraturan.
Mata tak kunjung terkejap. Masih
menatap layar handphone dengan penuh harap. Siapa tahu ada pesan singkat yang
mampir kemari setelah beberapa hari kau tak ada kabar sama sekali.
Kemana kau pergi? aku harus mencarimu kemana lagi? Kenapa jadi
begini! Pekikku
dalam hati.
Kali ini aku tak bisa memungkiri
kalau ternyata kau mulai berarti dari hari-kehari sejak perjumpaan kita pertama
kali. Semua itu terjadi diluar rencana, tak terduga. Canda, tawa, cerita-cerita yang kita bagi
bersama. Tidakkah kau mengingatnya? Kenapa kau biarkan mereka terbenam bersama
senja? Seharusnya tak kau biarkan hilang secepat ini. Sebab fajar tak
membawanya kembali bersama mentari. Ah, kau tak tahukan yang singkat itu
mengarat? yang singkat itu menyayat?
Kalaupun ingin pergi, beri jeda.
Perlahan, jangan langsung menghilang. Kesusahan aku mengatur alur pikiran dan perasaan
yang tiba-tiba berubah secepat kedipan mata. Seperti melayang-layang diudara,
melambung tinggi diangkasa. Lalu tersambar petir, terhantam terjatuh mencium
tanah. Tak ada yang mengenadah dibawah. Tak perlu dijelaskan rasanya seperti
apa, berlumuran luka didada.
Cangkir ketiga habis. Sampai playlist bosan berputar-putar, handphoneku masih
saja hening tak bergetar. Pandanganku mulai memudar, badanku bergetar
kedinginan. Sekarang turun hujan. Cuaca memang tidak berkawan.
Pelan-pelan aku beranjak menuju kamar. Rasanya ingin membenamkan diri
diranjang, menutup muka dengan bantal lalu berharap Tuhan memberi jawaban lewat
mimpi semalam.
Semoga ini hanya hanya soal waktu,
menunggu bayangmu berlalu.
Mungkin tak akan ada lagi senyum
yang diam-diam memenuhi anganku. Tak ada lagi ucapan menyebalkan yang
memotivasiku. Aku harap rindu tak menyebutkan namamu. Sebab semua akan hilang
termakan waktu. Mungkin itu juga yang kau mau. Terimakasih sudah meluangkan waktu diantara kesibukanmu, sudah mau berbagi pengalaman dan cerita-cerita lucu padaku.
Untuk seseorang yang tiba-tiba pergi dan tak kembali. Kau memang ahli menghiasi hariku dengan
pelangi.
Comments
Post a Comment