Senja. indahnya
tiada tara. Diantara bias cahyanya aku masih diam tak bersua. Berharap kali ini
udara menggemakan nama yang berbeda dari sebelumnya, sebab tak ada dua yang
selama ini kudamba. Masih hampa tak berwarna, hambar tak berasa. Hingga dentum jarum
jam bosan melihatku terjaga didepan jendela. Maraba bahagia yang sekiranya
tertinggal disela kacanya. Setiap musim kulewati ditempat yang sama, ditemani
kicauan burung penenang jiwa. Hanya saja luka saat ini tak betahta. Bahagia
kian menyapa, tak menggulita seperti dahulu kala. Untuk sekian kalinya aku
dihadapkan dengan pertanyaan yang sama. Sepertinya bukan aku, Lalu siapa?
Mata mengantung,
pikiran menggantung. Sudah beberapa jam aku diam mematung. Merenung tanpa
menemukan titik terang sedikitpun. Padahal rembulan kemarin sudah berjanji
menemani malamku hingga aku tersenyum. Andai aku serupa rembulan yang tak
pernah meredup walau harus berbagi sinarnya untuk berjuta bintang-bintang. Yang
tetap melelengkungkan senyuman terindah saat sabit walau sendirian. Bimasakti,
disisi mana lagi aku harus mencari kekuatan yang tak akan pernah pudar lalu
menghilang?
Tak ada yang kucari, hanya ingin dekat dengan Tuhan
dari hari kehari
Saat seseorang menghujaniku dengan berbagai cacian dan makian. Saat keadaan mencoba menghancurkan separuh ragaku ini.
Meleburkan bahagia yang mati-matian kupelihara slama ini. Pada akhirnya,
selalu pada Tuhan ku bersandar. Menahan, memohon kekuatan, dengan kesabaran yang
tak berpangkal. Aku takkan jera,
takkan pernah menyalahkan ketetapan yang sudah dibuat oleh-Nya. Sebab aku
percaya dengan kekuatan doa, semua bisa menjadi nyata. Berubah dalam sekejap
mata.
Kalaupun nanti Tuhan
mempertemukanku dengan pangeran pujaan hati. Biarkan aku memberi jarak satu,
dua petak antar jemari. Biarkan aku memperbaiki diri lagi, lagi dan lagi. Sebab
apa lagi yang dicari kalau bukan keindahan hati. Jadi, bersabarlah menanti. Pahami,
jangan langsung pergi. Aku pasti jaga diri maupun hati. Sampai Tuhan
mempersatukan kita nanti.
Comments
Post a Comment