Skip to main content

Sebut saja itu, aku.



Senja. indahnya tiada tara. Diantara bias cahyanya aku masih diam tak bersua. Berharap kali ini udara menggemakan nama yang berbeda dari sebelumnya, sebab tak ada dua yang selama ini kudamba. Masih hampa tak berwarna, hambar tak berasa. Hingga dentum jarum jam bosan melihatku terjaga didepan jendela. Maraba bahagia yang sekiranya tertinggal disela kacanya. Setiap musim kulewati ditempat yang sama, ditemani kicauan burung penenang jiwa. Hanya saja luka saat ini tak betahta. Bahagia kian menyapa, tak menggulita seperti dahulu kala. Untuk sekian kalinya aku dihadapkan dengan pertanyaan yang sama. Sepertinya bukan aku, Lalu siapa?

Mata mengantung, pikiran menggantung. Sudah beberapa jam aku diam mematung. Merenung tanpa menemukan titik terang sedikitpun. Padahal rembulan kemarin sudah berjanji menemani malamku hingga aku tersenyum. Andai aku serupa rembulan yang tak pernah meredup walau harus berbagi sinarnya untuk berjuta bintang-bintang. Yang tetap melelengkungkan senyuman terindah saat sabit walau sendirian. Bimasakti, disisi mana lagi aku harus mencari kekuatan yang tak akan pernah pudar lalu menghilang? 

Tak ada yang kucari, hanya ingin dekat dengan Tuhan dari hari kehari

Saat seseorang menghujaniku dengan berbagai cacian dan makian. Saat keadaan mencoba menghancurkan separuh ragaku ini. Meleburkan bahagia yang mati-matian kupelihara slama ini. Pada akhirnya, selalu pada Tuhan ku bersandar. Menahan, memohon kekuatan, dengan kesabaran yang tak berpangkal. Aku takkan jera, takkan pernah menyalahkan ketetapan yang sudah dibuat oleh-Nya. Sebab aku percaya dengan kekuatan doa, semua bisa menjadi nyata. Berubah dalam sekejap mata.

Kalaupun nanti Tuhan mempertemukanku dengan pangeran pujaan hati. Biarkan aku memberi jarak satu, dua petak antar jemari. Biarkan aku memperbaiki diri lagi, lagi dan lagi. Sebab apa lagi yang dicari kalau bukan keindahan hati. Jadi, bersabarlah menanti. Pahami, jangan langsung pergi. Aku pasti jaga diri maupun hati. Sampai Tuhan mempersatukan kita nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.