Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Begitu singkat, Tuan.

Dibalik jendela, setelah bulan, ada hujan yang setia mengisi malam. Semua terasa begitu kelam. Mengganjal pikiran, ingin kumuntahkan lewat tulisan sebelum mataku lelah lalu terpejam. Ada harap tentang-mu yang kusipikan dibalik rintik hujan.    Hujan, Aku sering melihatmu menghabiskan waktu bersama Tuan yang duduk dibangku paling ujung, yang sedang asik mendengarkan lagu. Aku pernah melihatmu tiba-tiba turun saat Tuan datang, untuk sekedar memberitahu bahwa kau akan selalu hadir mengisi hari-harinya yang kelabu. Bagaimana bisa berada disekitarnya tanpa perlu malu-malu?  Pasti kau disuguhi berbagai jenis canda dan tingkahnya yang lucu. Membuat didih kepalaku, aku iri padamu. Hujan, Bolehkah aku menjadi bagian dari dirimu?  Membelah diri menjadi seribu, lalu berubah menjadi butir-butir air yang siap menghujani tubuh Tuan itu. Agar aku mampu mendekap bahu kokoh yang tak mungkinku jamah dengan jemari maupun kedua tanganku. Agar aku tak...

Tentang Rindu

  Ini sajak rinduku padamu. Hanya untuk kamu. Sebab ternyata tanganku tak dapat bergerak menulis yang bukan tentang kamu. Pun, otakku hanya berotasi jika titik tumpunya adalah kamu. Ada rindu yang menggema ditelinga Menggaduh gendang,  hingga rasanya ingin pecah membuncah. Itu rindu mendengar bisik suaramu memenuhi indra pendengarku. Ada rindu yang memberontak mengacak-acak saraf lalu meledak. Itu rindu yang membuatku tuli tak dapat mendengar yang bukan suaramu. Ada rindu yang terisap setiap hembus nafasku menyelinap masuk birin paru-paruku. Itu rindu yang takkan berhenti sampai nafasku terenggut mati. Ada rindu yang hanya mengenal semestamu. Membuatku bisu tak mampu berucap yang bukan tentang kamu. Tak sanggup mengeja aksara kecuali namamu. Ada rindu yang slalu berlari menujumu. Hingga aku tak mengenal jalan lain selain jalan menuju sosokmu. Tak mengenal arah mata angin selain arah menuju sorot teduh matamu. A...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...

Tulisan rinduku untuk nenek.

Mentari, apakah sinarmu menghangatkan dunianya? Embun, apakah butir bulirmu menyejukkan tempatnya? Bulan, tetaplah bercahya diantara gelapnya malam, jangan skalipun meredup sebab aku tak ingin meninggalkannya dalam kegelapan akhir kehidupan. Melihat setumpuk tanah menutupi tubuhnya, mendengarkan ayah mengumandangkan azan diatas batu nisan. Air mataku pecah, tangisku membuncah. Apa yang bisa dilakukan anak berumur delapan tahun saat kehilangan satu-satunya eyang yang paling disayanginya? Selain menghasilkan berlusin-lusin air mata, apa? Seperti anak kecil yang dirampas bonekanya, diambil paksa mainan kesukaannya. Ditambah lagi saat terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawanya, aku yang selalu brada diranjang bersamanya, meminta agar aku yang merawat; mengganti perban dan obat dikakinya yang terluka, mendengerngar cerita-cerita dimimpinnya. Kita dekat sekali, ya Nek  :”)  Tak ada hentinya aku berdoa. Semoga Tuhan menempatkan kesempurnaan bahagia padanya, surga. Ne...

Pertemuan singkat.

Angin menggembala membawa hawa dingin pelipur lara. Jarum jam berlari-lari kecil menuju symbol berangka dua. Sepi…hanya terdengar suara gesekan daun dengan aspal, suara jangkrik bersautan dan kerumunan kunang-kunang yang terlihat paling bercahya. Sudah tengah malam ternyata . Beberapa hari ini aku terjaga dibawah sinar bulan duduk menghadap jendela. Lagu berlunan cinta menggema mengisi ruang-ruang kosong diudara. Ini cangkir ketiga, kopi berwarna hitam pekat dengan roti isi disampingnya.    Perasaanku gusar, nafasku meliar tak beraturan.  Mata tak kunjung terkejap. Masih menatap layar handphone dengan penuh harap. Siapa tahu ada pesan singkat yang mampir kemari setelah beberapa hari kau tak ada kabar sama sekali.  Kemana kau pergi? aku harus mencarimu kemana lagi? Kenapa jadi begini ! Pekikku dalam hati. Kali ini aku tak bisa memungkiri kalau ternyata kau mulai berarti dari hari-kehari sejak perjumpaan kita pertama kali. Semua itu terjadi diluar...

Kemari, lalu lengkapi.

Rasanya ingin pergi mengarungi bumi. Mencari serpihan yang hilang, yang belum kutemui sampai saat ini. Padahal tinggal satu sisi lagi yang belum tergenapi; hati. Jangan pernah datang kalau akhirnya hanya akan pergi meninggalkan kenang. Aku tak tertarik lagi menimbun kenangan. Sudah penuh berserakan digudang, tak akan ku genggam ulang, memilukan. Terkadang aku lelah menjadi pahlawan dalam resahku sendirian. Lebih baik kau datang dan bantu aku mengakhiri segala gelisah langkahku menuju masa depan. Memecahkan sepiku menjadi lingkar senyuman.   Kalaupun kau datang dengan kesetiaan iman. Aku akan menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Kesungguhan, ketulusan itu juga, kan? Sebab tak ada yang lebih menarik dari seorang pria yang beriman. Bersanding mengisi rongga rusuknya yang hilang. Aku hanya wanita biasa. Berpenampilan sederhana, apa adanya. Masih jauh dari kata sempurna, dengan segala kekurangan yang ada. Apa kau sanggup melengkapinya? Apa kau bisa menerima seluruhnya?...