Skip to main content

Posts

Kita diantara kata.

Biar arloji ini menjadi saksi.  Berapa banyak waktu yang kuhabisi untuk menunggumu datang kembali.             “Mas, tuna bakar madu, roti isi keju, sama es susunya satu” “Oke. Tunggu dulu ya” Lelaki itu melemparkan seutas senyuman kearahku. Aku membalasnya, seraya memberikan menu yang sedari tadi kurambati setiap katanya. Untuk kesekian kalinya aku datang kemari. Resto mini yang menyediakan tuna dengan berbagai variasi. Sangat unik dan menarik, membuatku tertarik mencicipi semua menu yang tersedia disini lagi, lagi dan lagi. “Silahkan, selamat makan”  Ucapnya membuyarkan lamunan. Aku yang sedari tadi asik didepan layar laptop dengan tulisan-tulisanku. Tak menyangka, makanan dan minuman yang kupesan sudah tertata tepat didepan mataku. Betapa aromanya menari-nari mengelilingi indra penciumku.  “Makasih”  “Sama-sama”  “Tumben sendirian?” Belum sempat melumat hidangan pembukanya, bol...

Inginku cuma satu; kamu.

Sungguh, hanya kuas dari genggaman jemarimu yang pas mewarnai hidupku. Boleh kuhentikan waktu barang satu atau dua bulan kebelakang? Saat hati tak begitu peduli tentang kehadiran, seseorang yang jelas-jelas mengitari setiap sudut pandangku tanpa pagar pembatas. Maaf, jika aku terlampau lancang ingin selalu berada disekitarmu. Aku pernah mencoba berjalan menjejaki laju langkahmu. Belajar menelusupi pola pikir, beserta inginmu. Juga mengintai setiap gerak-gerik lakumu. Aku pernah ingin mengintipi setiap sudut isi hatimu, membuatnya merambat menujuku. Menuju muara hatiku, lalu menyatu, bersatu padu. Kemudian seseorang menamparku, berusaha membangunkanku. Dia pikir aku sedang bermimpi. Tapi…mengapa terasa sakit dipipi? Ini kenyataan yang semu tuk-ku miliki. Tak perlu memaki apa lagi mencoba memperingati. Sebab aku lebih jeli mencari, meneliti kata yang tertuang dalam mayanya sendiri. Rupanya sudah ada bidadari pengisi hati. Tenang, aku sadar diri. Sebentar lagi juga akan ...

Surat kedua untuk Tuan.

Secangkir kopi dengan rindu disetiap tetesnya. Jadikan aku tujuan untukmu kembali pulang. Aku selalu menanti dibalik pintu. Berteman secangkir coklat dan makanan kecil kesukaanmu. Betapa menyambut kepulanganmu adalah hal yang paling kutunggu-tunggu. Tuan, tak ada yang sanggup membuat jantungku berdegup hebat selain mendengar persinggungan jemarimu dengan kayu yang berbuih ketukan dibibir pintu. Tak ada yang bisa membuat nafasku terhenti sepersekian detik selain melihat sosokmu muncul dari ganggang pintu. Rasanya ingin kutenggelamkan diriku dalam dekap tubuhmu. Menghilangkan segala risau, membayar seluruh rindu yang bersarang dibenakku. Berbisik lirih ditelingamu Tenang saja tuan, ada aku yang selalu berdiri tepat diblakangmu. Yang tak akan pernah membiarkanmu kalah dengan waktu.          Ajari aku menjadi wanita yang paling kau butuhkan.   Ajari aku menjadi wanita yang ahli memahami seluruh keluh kesah masalahmu. Yang dapat kau an...

Begitu singkat, Tuan.

Dibalik jendela, setelah bulan, ada hujan yang setia mengisi malam. Semua terasa begitu kelam. Mengganjal pikiran, ingin kumuntahkan lewat tulisan sebelum mataku lelah lalu terpejam. Ada harap tentang-mu yang kusipikan dibalik rintik hujan.    Hujan, Aku sering melihatmu menghabiskan waktu bersama Tuan yang duduk dibangku paling ujung, yang sedang asik mendengarkan lagu. Aku pernah melihatmu tiba-tiba turun saat Tuan datang, untuk sekedar memberitahu bahwa kau akan selalu hadir mengisi hari-harinya yang kelabu. Bagaimana bisa berada disekitarnya tanpa perlu malu-malu?  Pasti kau disuguhi berbagai jenis canda dan tingkahnya yang lucu. Membuat didih kepalaku, aku iri padamu. Hujan, Bolehkah aku menjadi bagian dari dirimu?  Membelah diri menjadi seribu, lalu berubah menjadi butir-butir air yang siap menghujani tubuh Tuan itu. Agar aku mampu mendekap bahu kokoh yang tak mungkinku jamah dengan jemari maupun kedua tanganku. Agar aku tak...