Ada yang sedari tadi berdiri,
menatapku tanpa henti. Selagi aku mati-matian menahan hati untuk tidak berlari
menuju peraduan yang pernah kita singgahi, tanpa disadari lelaki itu datang
kemari. Tepat dibibir pintu rumahku, dengan senyum yang melingkari pipi.
Tiba-tiba kakiku berjalan menelusuri bayangnya yang terpapar sinar matahari.
Kenangan menjejali tiap rongga nafasku ini. Seakan tubuhku menolak untuk
berhenti, terus berjalan sampai jemari kita saling bertemu kembali.
Ingin rasanya merapalkan sederet pertanya
yang masih menyesak didasar hati, menghakimi kata-kata yang kau lontarkan
kesana kemari. Berapa lama kau pergi? Sudah lelah menjelajahi setiap kepingan
hati yang ternyata tidak mampu mehadapi lakumu? Sudah kubilang, hanya aku yang lihai,
hanya aku yang sanggup memahami setiap inci baik burukmu. Kurang apa lagi? Nikmati
saja sisa waktu yang kau habisi untuk menyesali semua ini, sebab aku takkan
kembali walau kau menawariku berulang-ulang kali.
Andai saja aku sanggup memilah mimpi, aku takkan memilih kau yang hadir
malam ini
Kali ini biar kenangan yang
memainkan peran, aku tak mengizinkanmu menjadi pemeran, aku sudah kewalahan. Takkan
ada lagi cerita tentang kesedihan maupun kebahagiaan yang biasanya kita mainkan.
Takkan ada lagi pelukan hangat serta tatapan penuh ketenangan. Takkan ada lagi
dirimu yang selalu kurindukan. Namun, sekali ini saja aku ingin merasakan
yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam walau hanya sebentar, lewat mimpi
semalam.
Comments
Post a Comment