Skip to main content

Sekali lagi, bertemu dalam mimpi

Ada yang sedari tadi berdiri, menatapku tanpa henti. Selagi aku mati-matian menahan hati untuk tidak berlari menuju peraduan yang pernah kita singgahi, tanpa disadari lelaki itu datang kemari. Tepat dibibir pintu rumahku, dengan senyum yang melingkari pipi. Tiba-tiba kakiku berjalan menelusuri bayangnya yang terpapar sinar matahari. Kenangan menjejali tiap rongga nafasku ini. Seakan tubuhku menolak untuk berhenti, terus berjalan sampai jemari kita saling bertemu kembali.

Ingin rasanya merapalkan sederet pertanya yang masih menyesak didasar hati, menghakimi kata-kata yang kau lontarkan kesana kemari. Berapa lama kau pergi? Sudah lelah menjelajahi setiap kepingan hati yang ternyata tidak mampu mehadapi lakumu? Sudah kubilang, hanya aku yang lihai, hanya aku yang sanggup memahami setiap inci baik burukmu. Kurang apa lagi? Nikmati saja sisa waktu yang kau habisi untuk menyesali semua ini, sebab aku takkan kembali walau kau menawariku berulang-ulang kali.

Andai saja aku sanggup memilah mimpi, aku takkan memilih kau yang hadir malam ini

Kali ini biar kenangan yang memainkan peran, aku tak mengizinkanmu menjadi pemeran, aku sudah kewalahan. Takkan ada lagi cerita tentang kesedihan maupun kebahagiaan yang biasanya kita mainkan. Takkan ada lagi pelukan hangat serta tatapan penuh ketenangan. Takkan ada lagi dirimu yang selalu kurindukan. Namun, sekali ini saja aku ingin merasakan yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam walau hanya sebentar, lewat mimpi semalam.

Comments

Popular posts from this blog

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Allah

Memang benar, selama ini hanya Allah yang paling mengerti keadaan serta perasaan saya. Hanya Allah yang selalu ada saat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Hanya dengan Allah saya bisa bercerita, berbagi segala rasa, lara, maupun bahagia. Hanya pelukan dari Allah yang paling membuat saya tenang.  Hanya hadir-Nya yang membuat saya kuat untuk bertahan dan tak lepas melempar senyuman ke pada dunia, hingga yang mereka tau saya bahagia. Walau sebenarnya saya ingin berlari dari dunia yang membuat saya menitihkan air mata, membuat saya ingin berteriak, membuat saya ingin menyerah.  Alhamdulillah...Allah tidak meninggalkan saya, tidak akan meninggalkan hambanya. Maaf beribu maaf sebab saya masih saja melakukan kesalahan sebagai manusia biasa, selalu berharap hidayah dan pengampunan atasnya. Semoga suatu saat nanti, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Sebagai hamba yang selalu rindu ingin bertemu, sebab Allah adalah satu-satun...