Skip to main content

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan. Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman.

Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu dapat membunuh rasa yang telah lama kujaga.

Tersenyumlah karna senyummu yang selaluku tunggu walau sebabnya bukan aku.

Tak perlu khawatir walau kau tau aku amatir dalam melupakan. Meyingkirkan bayangmu sehari saja aku tak sanggup apa lagi harus melupakamu. Sulit bertahan di atas puing-puing yang sudah kau hancurkan. Tapi apa yang dapat aku perbuat selain bertahan dan menanti? Menanti yang jelas-jelas tak mengharapkanku. Seperti membiarkan lukanya semakin dalam menyayat hingga dasar hati yang seharusnya tidak dapat kau jangkau.

Ijinkan aku menyelipkan namanya saat bercengkrama dengan Tuhan dalam sujudku.
Yang dapatku lakukan saat ini hanya memeluknya dalam doa.  Aku percaya Tuhan dapat menjaga melebihi  wanita yang saat ini bersanding dengannya.

Biarkan aku larut dalam mimpi. Tak ingin terbangun memulai hari karna kenyataan hanya menyakiti diri sendiri.

Andai saja bunga tidur tak melebur saat mata tak lagi terpejap. Andai saja aku masih dapat menguraikan senyumnya. Menatap pelangi dilingkar bola matanya. Menghirup aroma parfum yang melekat ditubuh jenjangnya.  Lagi lagi hanya dapat berharap sebab semua hanya terjadi dalam mimpi. Semalam saja, saat aku terjaga. Terlelap berselimut kenangan. Tidak adakah yang lebih membahagiakan dari ini?

Menghilanglah! Aku lelah memendam gundah tanpa pernah kau acuhkan,

Menghilanglah. aku lelah  merasakan  sakit disetiap inci dihati sendiri. Sosokmu selalu saja bersemayan dipikiranku. Seperti magnet yang tak ingin lepas dari genggaman besi. Kapan aku dapat merasakan seperti yang kau rasakan saat ini? Kapan? Kalau sosokmu saja enggan pergi walau hanya sejenak.

Comments

Post a Comment