Ada yang tiba-tiba menyita
perhatian
Ada yang diam-diam saling
bertukar pandang
Namun, tak kunjung berbincang,
sepatah katapun tak terlontarkan
Kau seolah bungkam, dalam hati aku
bergumam, bertanya dalam bimbang
Sudah kurenungkan semalaman,
Mana mungkin aku salah
mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan
terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta
senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam.
Hampir saja rem yang kutahan
terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak
kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah
itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam?
Ah harusnya kau sadar dengan
sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat,
sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak
ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak mungkin berjalan ditempat yang setapak.
Karna jarak takkan berdamai walau kita memaksa kehendak, ia akan selalu
mengelak. Hingga kita hanya dapat saling menebak, menerka-nerka kalau saja kita
memiliki rasa yang sama.
Kalau saja kau membaca, coba beritahu aku bahwa prasangka ini nyata.
Comments
Post a Comment