Skip to main content

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian

Ada yang diam-diam saling bertukar pandang

Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan

Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang

Sudah kurenungkan semalaman,

Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam.

Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam?

Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak mungkin berjalan ditempat yang setapak. Karna jarak takkan berdamai walau kita memaksa kehendak, ia akan selalu mengelak. Hingga kita hanya dapat saling menebak, menerka-nerka kalau saja kita memiliki rasa yang sama.

Kalau saja kau membaca, coba beritahu aku bahwa prasangka ini nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...

Basket memang selalu memikat

Sore itu detak jantungku berderap seiraman pantulan bola yang sedang kau kuasai. Terik matahari menyongsong sinar jatuh tepat dilapangan tempat pertandingan.  Diantara pemain lain kau yang paling menyita perhatian. Mataku seperti enggan berpaling, tidak ingin melewatkan sedetik  pun saat kau sedang bermain. Seperti ada magnet yang menahan, membuatku tetap bertahan memandang dengan berjuta harapan yang sedang berotasi dipikiran. Sebenarnya sudah berberapa kali berada dalam situasi seperti ini namun sesering itu juga aku menangkis yang tiba-tiba menyusup diantara degup jantungku, bergelut antara pikiran dan perasaan. Setiap latihan, setiap pertandingan sebenarnya ada seseorang yang menerawang dari kejauhan. Membaca gerak-gerik permainanmu dilapangan. Badan tinggi semampai serupa ring basket yang tinggi menjuntai.  Detak jantungku memburu, berderu saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Peluh berjatuh meluruh, telukis jelas lelah mulai menjamah tubuhmu...