Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2013

Tulisan rinduku untuk nenek.

Mentari, apakah sinarmu menghangatkan dunianya? Embun, apakah butir bulirmu menyejukkan tempatnya? Bulan, tetaplah bercahya diantara gelapnya malam, jangan skalipun meredup sebab aku tak ingin meninggalkannya dalam kegelapan akhir kehidupan. Melihat setumpuk tanah menutupi tubuhnya, mendengarkan ayah mengumandangkan azan diatas batu nisan. Air mataku pecah, tangisku membuncah. Apa yang bisa dilakukan anak berumur delapan tahun saat kehilangan satu-satunya eyang yang paling disayanginya? Selain menghasilkan berlusin-lusin air mata, apa? Seperti anak kecil yang dirampas bonekanya, diambil paksa mainan kesukaannya. Ditambah lagi saat terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawanya, aku yang selalu brada diranjang bersamanya, meminta agar aku yang merawat; mengganti perban dan obat dikakinya yang terluka, mendengerngar cerita-cerita dimimpinnya. Kita dekat sekali, ya Nek  :”)  Tak ada hentinya aku berdoa. Semoga Tuhan menempatkan kesempurnaan bahagia padanya, surga. Ne...

Pertemuan singkat.

Angin menggembala membawa hawa dingin pelipur lara. Jarum jam berlari-lari kecil menuju symbol berangka dua. Sepi…hanya terdengar suara gesekan daun dengan aspal, suara jangkrik bersautan dan kerumunan kunang-kunang yang terlihat paling bercahya. Sudah tengah malam ternyata . Beberapa hari ini aku terjaga dibawah sinar bulan duduk menghadap jendela. Lagu berlunan cinta menggema mengisi ruang-ruang kosong diudara. Ini cangkir ketiga, kopi berwarna hitam pekat dengan roti isi disampingnya.    Perasaanku gusar, nafasku meliar tak beraturan.  Mata tak kunjung terkejap. Masih menatap layar handphone dengan penuh harap. Siapa tahu ada pesan singkat yang mampir kemari setelah beberapa hari kau tak ada kabar sama sekali.  Kemana kau pergi? aku harus mencarimu kemana lagi? Kenapa jadi begini ! Pekikku dalam hati. Kali ini aku tak bisa memungkiri kalau ternyata kau mulai berarti dari hari-kehari sejak perjumpaan kita pertama kali. Semua itu terjadi diluar...

Kemari, lalu lengkapi.

Rasanya ingin pergi mengarungi bumi. Mencari serpihan yang hilang, yang belum kutemui sampai saat ini. Padahal tinggal satu sisi lagi yang belum tergenapi; hati. Jangan pernah datang kalau akhirnya hanya akan pergi meninggalkan kenang. Aku tak tertarik lagi menimbun kenangan. Sudah penuh berserakan digudang, tak akan ku genggam ulang, memilukan. Terkadang aku lelah menjadi pahlawan dalam resahku sendirian. Lebih baik kau datang dan bantu aku mengakhiri segala gelisah langkahku menuju masa depan. Memecahkan sepiku menjadi lingkar senyuman.   Kalaupun kau datang dengan kesetiaan iman. Aku akan menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Kesungguhan, ketulusan itu juga, kan? Sebab tak ada yang lebih menarik dari seorang pria yang beriman. Bersanding mengisi rongga rusuknya yang hilang. Aku hanya wanita biasa. Berpenampilan sederhana, apa adanya. Masih jauh dari kata sempurna, dengan segala kekurangan yang ada. Apa kau sanggup melengkapinya? Apa kau bisa menerima seluruhnya?...

Sebut saja itu, aku.

Senja. indahnya tiada tara. Diantara bias cahyanya aku masih diam tak bersua. Berharap kali ini udara menggemakan nama yang berbeda dari sebelumnya, sebab tak ada dua yang selama ini kudamba. Masih hampa tak berwarna, hambar tak berasa. Hingga dentum jarum jam bosan melihatku terjaga didepan jendela. Maraba bahagia yang sekiranya tertinggal disela kacanya. Setiap musim kulewati ditempat yang sama, ditemani kicauan burung penenang jiwa. Hanya saja luka saat ini tak betahta. Bahagia kian menyapa, tak menggulita seperti dahulu kala. Untuk sekian kalinya aku dihadapkan dengan pertanyaan yang sama. Sepertinya bukan aku, Lalu siapa? Mata mengantung, pikiran menggantung. Sudah beberapa jam aku diam mematung. Merenung tanpa menemukan titik terang sedikitpun. Padahal rembulan kemarin sudah berjanji menemani malamku hingga aku tersenyum. Andai aku serupa rembulan yang tak pernah meredup walau harus berbagi sinarnya untuk berjuta bintang-bintang. Yang tetap melelengkungkan senyuman terin...