Mentari, apakah sinarmu menghangatkan dunianya? Embun, apakah butir bulirmu menyejukkan tempatnya? Bulan, tetaplah bercahya diantara gelapnya malam, jangan skalipun meredup sebab aku tak ingin meninggalkannya dalam kegelapan akhir kehidupan. Melihat setumpuk tanah menutupi tubuhnya, mendengarkan ayah mengumandangkan azan diatas batu nisan. Air mataku pecah, tangisku membuncah. Apa yang bisa dilakukan anak berumur delapan tahun saat kehilangan satu-satunya eyang yang paling disayanginya? Selain menghasilkan berlusin-lusin air mata, apa? Seperti anak kecil yang dirampas bonekanya, diambil paksa mainan kesukaannya. Ditambah lagi saat terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawanya, aku yang selalu brada diranjang bersamanya, meminta agar aku yang merawat; mengganti perban dan obat dikakinya yang terluka, mendengerngar cerita-cerita dimimpinnya. Kita dekat sekali, ya Nek :”) Tak ada hentinya aku berdoa. Semoga Tuhan menempatkan kesempurnaan bahagia padanya, surga. Ne...