Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2016

Prasangka

Ada yang tiba-tiba menyita perhatian Ada yang diam-diam saling bertukar pandang Namun, tak kunjung berbincang, sepatah katapun tak terlontarkan Kau seolah bungkam, dalam hati aku bergumam, bertanya dalam bimbang Sudah kurenungkan semalaman, Mana mungkin aku salah mengartikan tatapan, yang berulang kali tertangkap kedua bola mataku dan terekam jelas dipikiran. Aku bukan yang awam menerjemahkan kerlingan serta senyuman, apa lagi itu berasal dari paras yang sudah kuhafal hingga khatam. Hampir saja rem yang kutahan terlepas setiap malam. Sebab pikiranku melayang-layang, bayangmu bersemayam tak kunjung menghilang. Padahal, sudah berapa pekan kita tak saling bertatapan, tampan? Tak semudah itukan melupakan yang sudah terlanjur tertanam? Ah harusnya kau sadar dengan sikap yang kerap membuat detak jangtungku berdegup cepat. Sebelum terlambat, sebelum persaaan ini menghebat, semakin kuat. Beranjak dan jangan meninggalkan jejak ataupun mengelak. Pun, kelak kita tak m...

Kau yang kusebut bahagia kini menjadi siksa

Waktu terus berjalan mempertegas bayang-bayang yang seharunya karam dengan kenangan. Menorehkan luka yang kian membekas, merenggut kebahagiaan. menghempaskan rasa yang telah tertanam didasar jiwa.  Andai aku dapat membunuh waktu. Agar luka yang kian meradang dapat hilang sebentar. Sebab aku rindu menghirup aroma kebagiaan yang telah bermetafosis menjadi siksaan. aku benci perpisahan. Apa lagi harus berpisah dengan dambaan.  Saat ini penantian yang berperan sebab kekecewaan yang mendalam tak dapat berubah menjadi kemakluman. Aku tak lihai menjejalkan janji sehidup semati. Merangkai abjad demi abjad menjadikannya bingkisan yang disebut rayuan seperti yang kau lakukan. Aku termakan buaianmu, aku terlena dengan apa yang kau janjikan. Andai saja aku lebih lihai darimu, mungkin saat ini bahagiaku tidak terampas sepenuhnya olehmu. Puaskah kau saat ini? Tenang saja sayang. aku tak dapat membenci walau kau merapalkan sederet kalimat yang slalu da...

Sekali lagi, bertemu dalam mimpi

Ada yang sedari tadi berdiri, menatapku tanpa henti. Selagi aku mati-matian menahan hati untuk tidak berlari menuju peraduan yang pernah kita singgahi, tanpa disadari lelaki itu datang kemari. Tepat dibibir pintu rumahku, dengan senyum yang melingkari pipi. Tiba-tiba kakiku berjalan menelusuri bayangnya yang terpapar sinar matahari. Kenangan menjejali tiap rongga nafasku ini. Seakan tubuhku menolak untuk berhenti, terus berjalan sampai jemari kita saling bertemu kembali. Ingin rasanya merapalkan sederet pertanya yang masih menyesak didasar hati, menghakimi kata-kata yang kau lontarkan kesana kemari. Berapa lama kau pergi? Sudah lelah menjelajahi setiap kepingan hati yang ternyata tidak mampu mehadapi lakumu? Sudah kubilang, hanya aku yang lihai, hanya aku yang sanggup memahami setiap inci baik burukmu. Kurang apa lagi? Nikmati saja sisa waktu yang kau habisi untuk menyesali semua ini, sebab aku takkan kembali walau kau menawariku berulang-ulang kali. Andai saja aku sanggup mem...