Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Ibu

Serupa besi baja kau tak pernah hancur sekalipun dihantam beban yang tak henti meluncur. Hati sekokoh apa yang Tuhan berikan padamu, bu? Hingga tak ada alasan tuk terjatuh walau tubuh mulai merapuh. Kekuatan sebesar apa lagi yang tertanam mengakar dihati? sampai-sampai lelah tak mampu berdengus lemah. Lara dan derita seperti apa yang belum kau cicipi dalam perjuangan mempertahankan kebahagiaan keluarga kita. Sederas peluh pun tak sanggup membuatmu mengeluh. Ajarkan aku menjadi sosok wanita tangguh. Yang tetap tersenyum walau cobaan berusaha membuatku tersungkur, terjatuh. Wanita berhati mulia, bertutur kata bagai mutiara. Beribu kebahagiaan kau tenun tak mengenal waktu. Sejuta cinta kau berikan tanpa jeda. Menjaga sepenuh jiwa. Pemberi nasihat menuju bahagia. Walaupun sesekali kau memaksaku mencicipi teguran dan omelan disetiap hari-hari yang kujalani. Sepucuk harap menjuntai setinggi mentari pagi. Harap untuk bidadari kecil yang tumbuh dari rahim malaikat surgawi. Ber...

Sahabat, kau yang terhebat.

Sudah lama kita tak  saling sapa. Rindukah kau berbagi tawa bersama? Cerita apa lagi yang akan kau bagi? Cobaku tebak, pasti tentang seseorang yang sedang singgah dihati atau tentang kita yang selalu berjalan beriringan setiap hari? Sahabat, kau penyumat semangat setiap saat. Cerita-ceritaku mulai mengarat. Rasanya sudah berabad-abad dibiarkan tak terawat. Aku tak sanggup lagi menyumbat mulut agar terus mengatup. Memendam segala yang biasanyaku sisihkan sebagian untuk diperbincangkan. Kapan kita dapat saling bertukar cerita? Menghilangkan penat atau saling berpeluk erat. Waktu tak berpihak padaku saat ini, tak kunjung memberi kesempatan untuk sekedar saling menatap  walau hanya sekejap. Tolong, untuk kali ini saja waktu. Aku membutuhkan dekap terhangat dan genggaman terkuat. Sebab semangatku mulai meredup, pandanganku semakin mengabut. Jangan kira rindu tak menghampiriku, saat jarak membuat kita tak dapat saling bertemu. Dulu kita sempat seatap saat menun...

Aku lelah, kau pantang menyerah.

Aku berjalan diantara kerumunan. Berusaha menghilang tanpa menyisakan jejak maunpun bayang-bayang. Sambil sesekali melirik kekiri dan kekanan. Apakah sosoknya sudah menghilang dari pandangan? Tanganku gemetar, mulutku bergelotakkan menahan ketakutan. Sebenarnya sosoknya tak seseram apa yang kau bayangkan. Hanya saja aku malas harus terus berhadapan menahan rasa kesal. Harus berapa kali ku jelaskan kalau aku tak benar-benar menginginkan apa yang sedang kau tawarkan? Tunjukkan saja, yakinkankan aku selama kau bisa. Tapi aku tak akan menjanjikan apa-apa. Sebab kau tau sendiri aku baru tidak ingin menggenggam cinta yang melulu soal kata dan berujung luka. Waktuku begitu berharga, untuk sekedar mencicipi cinta yang akan padam dalam jangka waktu yang sanggup dihitung dentum jarum jam. Kenapa kau tak kunjung menyerah? Kenapa kau masih tetap bertahan kalau aku jelas-jelas tak menginginkan kebersamaan? Kalimatku begitu sederhana, sesulit itukah untuk kau cerna? Beberapa kejadian me...