Skip to main content

Bersama



Kali ini, biarkan aku menerka yang tak tertangkap oleh mata.

Jujur saja, aku masih belum bisa menjadi seorang wanita idaman; yang kau dambakan.
Aku masih belum bisa menjadi seperti yang kau inginkan.
Aku masih jauh dari kata sempurna serupa yang kau bayangkan.
Aku masih tak dapat menjadi sebab kau bahagia dalam kehidupan.
Aku…
Aku..

Rasanya begitu banyak kurang yang kutuang sembarang disetiap cangkir kehidupanmu. Yang seharusnya kubuang tak kubiarkan kau menelan seluruhnya sendirian. Mesesapi luka diantara bahagia yangku punya. Membiarkanmu menyesak ditepian, menahan memar legam. Dengan cara apa kau bertahan, sayang? Menahun bersama harap yang tak kunjung menjadi kenyataan. Merasakan setiap sesak tanpa ada akuyang menjadi tumpu kekuatan.

Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama.

Satuan waktu mana lagi yang tak memakiku, sebab membiarkanmu menua dengan pilu. Membiarkanmu menyinggahi hati yang seharusnya hanya untukku. Membiarkanmu mencicipi cinta yang bukan selain dariku. Kalau aku tau semua akan berakhir seperti ini, kalau aku tau aku tak dapat memutar waktu menjadi dulu.  Sungguh, aku hanya ingin Tuhan menyematkan rasa padaku sekarang. Membiarkan rasa itu menjalar, mengakar sampai kesum-sum tulang. Karna memang hanya kamu yang datang memperkenalkanku kembali dengan ketulusan. 

Mungkin ucapan terimakasih tak akan cukup untuk melunasi segala kebahagiaan yang (ternyata) kau berikan hanya untukku. 

Aku baru sadar sekarang, sayang.

Saat aku sibuk mencari seorang pengobat segala lara, ternyata kamu sudah dari dulu menemukan penawarnya.
Saat aku kesusahan menghadapi sesuatu, kau pasti sudah lebih dulu menolongku.
Saat bahagia menyapaku, kau turut berucap bahagia walau sebenarnya luka sedang menyayat-nyayat hatimu.
Saat air mata menghiasi air mukaku, kau selalu ahli meramunya menjadi tawa hingga senyuman tak berhenti menyungging dibibirku.

Hati seperti apa yang Tuhan berikan padamu? Luka sedalam apa yang kau rasakan sejak dulu? Tenang, sayang, aku mencoba memupuk kembali yang kadung layu oleh kenangan. Menghidupkan kembali yang mati sebab kekecewaan. Hanya untukmu, hanya untukmu.

Jangan menghilang. Aku tak memiliki kekuatan lagi untuk bertahan sendirian.

Comments

Popular posts from this blog

Terselip ragu dalam rindu

Aku rindu sederet kalimat romantis yang dapat meluruhkan hatiku. Aku rindu petikan gitar dengan lagu syahdu mengelitik kalbu. Aku rindu menatap pelangi ditepian bola matamu. Aku rindu, kamu…  Inikah  yang disebut rindu? Rasa yang selalu mengendap-endap masuk disela-sela pikiranku.  Rasa yang selalu dapat menyurutkan semangat yang sudah kupersiapkan untuk melawan hari. Tidak adakah yang lebih menarik dari ini? Aku benci saat rindu mulai menguasaiku, mematikan seluruh pola pikirku. Kau seperti candu membuatku rela menunggu, merenggut seluruh waktuku walau semua berujung semu. Dimana canda yang dapat membunuh sepiku? Dimana semangat yang dapatku andalkan saat rasa lelah mulai menguasaiku? Dimana kau yang selalu dapat menepis tagis menjadi tawa disela airmataku? Apa senyummu masih tetap sama? Senyum yang selalu dapat menggetarkan setiap pembuluh darah yang bermuara dihatiku. Apa suaramu masih tetap hangat saat menyebut namaku? Aku harap semua m...

Hey pemerintah!

Hai! Mau cerita sedikit nih tentang yang aku post kali ini. Aku nulis ini terisnpirasi dari foto-foto yang aku ambil sendiri kemarin waktu ke daerah Bantul. Pertama nyampe sana nggak bisa bilang apa-apa. Bayangin aja ngeliat tanah berhektar-hektar besarnya dan isinya itu cuma sampah yang numpuk-numpuk belum lagi ada banyak pemulung sama hewan ternak ditengah-tengah antara sampah itu. Setiap ada trek yang dateng buang sampah disana mereka semua berebutan, nggak orang hewannya juga. Udaranya panas, bau sampahnya kemana-mana, belum nyampe 1 jam aja udah mau muntah rasanya. Miris banget ya liatnya. Enggak nyampe hati gitu. Pengen banget bantu tapi apa yang bisa dilakuin seorang anak sekolah? selain menyisihkan uang sakunya setiap minggu untuk disedekahin. Ah, harusnya pemerintah lebih perhatian lagi sama mereka. Setidaknya, kurangi korupsinyalah. Makan harta yang nggak semestinya, nggak sadar apa rakyatnya banyak yang mendertita?  Tanah berakar sampah Bau busuk meliar ...
Ternyata, tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan doa saja, aku dapat berbicara. Sebab tak ada daya untuk mengapainya. Kecuali....sampai Ia bersedia mengulurkan tangannya.