Kali ini, biarkan aku menerka yang tak tertangkap oleh mata.
Jujur saja,
aku masih belum bisa menjadi seorang wanita idaman; yang kau dambakan.
Aku masih
belum bisa menjadi seperti yang kau inginkan.
Aku masih
jauh dari kata sempurna serupa yang kau bayangkan.
Aku masih
tak dapat menjadi sebab kau bahagia dalam kehidupan.
Aku…
Aku..
Rasanya begitu
banyak kurang yang kutuang sembarang disetiap cangkir kehidupanmu. Yang seharusnya
kubuang tak kubiarkan kau menelan seluruhnya sendirian. Mesesapi luka diantara
bahagia yangku punya. Membiarkanmu menyesak ditepian, menahan memar legam. Dengan
cara apa kau bertahan, sayang? Menahun bersama harap yang tak kunjung menjadi
kenyataan. Merasakan setiap sesak tanpa ada akuyang menjadi tumpu kekuatan.
Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama.
Satuan waktu
mana lagi yang tak memakiku, sebab membiarkanmu menua dengan pilu. Membiarkanmu
menyinggahi hati yang seharusnya hanya untukku. Membiarkanmu mencicipi cinta
yang bukan selain dariku. Kalau aku tau semua akan berakhir seperti ini, kalau aku tau
aku tak dapat memutar waktu menjadi dulu.
Sungguh, aku hanya ingin Tuhan menyematkan rasa padaku sekarang. Membiarkan
rasa itu menjalar, mengakar sampai kesum-sum tulang. Karna memang hanya kamu
yang datang memperkenalkanku kembali dengan ketulusan.
Mungkin ucapan terimakasih tak akan cukup untuk
melunasi segala kebahagiaan yang (ternyata) kau berikan hanya untukku.
Aku baru sadar sekarang, sayang.
Saat aku
sibuk mencari seorang pengobat segala lara, ternyata kamu sudah dari dulu
menemukan penawarnya.
Saat aku kesusahan
menghadapi sesuatu, kau pasti sudah lebih dulu menolongku.
Saat bahagia
menyapaku, kau turut berucap bahagia walau sebenarnya luka sedang
menyayat-nyayat hatimu.
Saat air
mata menghiasi air mukaku, kau selalu ahli meramunya menjadi tawa hingga senyuman
tak berhenti menyungging dibibirku.
Hati seperti
apa yang Tuhan berikan padamu? Luka sedalam apa yang kau rasakan sejak dulu? Tenang,
sayang, aku mencoba memupuk kembali yang kadung layu oleh kenangan. Menghidupkan
kembali yang mati sebab kekecewaan. Hanya untukmu, hanya untukmu.
Jangan menghilang. Aku tak
memiliki kekuatan lagi untuk bertahan sendirian.
Comments
Post a Comment